Blogroll
Jumat, 19 September 2014
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,
“Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya—belahan hatinya—di dunia dan di akhirat karena tidak memberi perhatian dan tidak memberikan pendidikan adab kepada mereka. Orang tua justru membantu si anak menuruti semua keinginan syahwatnya. Ia menyangka bahwa dengan berbuat demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal sejatinya dia telah menghinakannya. Bahkan, dia beranggapan, ia telah memberikan kasih sayang kepada anak dengan berbuat demikian. Akhirnya, ia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anaknya. Si anak justru membuat orang tua terluput mendapat bagiannya di dunia dan di akhirat. Apabila engkau meneliti kerusakan yang terjadi pada anak, akan engkau dapati bahwa keumumannya bersumber dari orang tua.” (Tuhfatul Maudud hlm. 351)
Beliau rahimahullah menyatakan pula,
“Mayoritas anak menjadi rusak dengan sebab yang bersumber dari orang tua, dan tidak adanya perhatian mereka terhadap si anak, tidak adanya pendidikan tentang berbagai kewajiban agama dan sunnah-sunnahnya. Orang tua telah menyia-nyiakan anak selagi mereka masih kecil, sehingga anak tidak bisa memberi manfaat untuk dirinya sendiri dan orang tuanya ketika sudah lanjut usia. Ketika sebagian orang tua mencela anak karena kedurhakaannya, si anak menjawab, ‘Wahai ayah, engkau dahulu telah durhaka kepadaku saat aku kecil, maka aku sekarang mendurhakaimu ketika engkau telah lanjut usia. Engkau dahulu telah menyia-nyiakanku sebagai anak, maka sekarang aku pun menyia-nyiakanmu ketika engkau telah berusia lanjut’.” (Tuhfatul Maudud hlm. 337)
(Diambil dari Huququl Aulad ‘alal Aba’ wal Ummahat hlm. 8—9, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari hafizhahullah)
Buku ini diterangkan secara bab demi bab yang dijelaskan point per point secara sederhana dan singkat, sehingga pembaca tidak harus membutuhkan waktu lama untuk membaca per pointnya.
Setiap akhir bab Beliau menuliskan rehat yang berisi kesimpulan singkat dari bab yang dibahas.
Selain itu buku ini syarat dengan makna-makna kehidupan, syair-syair dari sastrawan terkenal, dan juga nasihat-nasihat dari beberapa ulama.
Terkadang ada beberapa kata-kata yang sulit dimengerti dan cerita-cerita yang hanya diambil sebagian penting, sehingga membuat pembaca merasa ada yang kurang.
Isi buku:
Setiap orang pasti mengalami kesedihan. Entah karena kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang dicintai ataupun karena banyak hutang. Buku ini bisa akan memberikan solusi bagaimana mengatasi kesedihan tersebut dan kalaupun kita masih bersedih, tidak sampai berlarut-larut.
Salah satu penulis islam yang lahir dengan nama lengkap Dr. `Aidh Abdullah bin `Aidh al-Qarni (Nama al-Qarni diambil dari dari daerah asalnya di wilayah selatan Arab Saudi). Sedikit banyak telah membuat umat muslim terperanjak untuk bangkit dari kesedihan dengan kitabnya “La Tahzan”.
Kitab yang dikarang pada saat ia berada dibalik jeruji besi itu, telah mendapat tempat tersendiri dihati kaum muslim.
Hal ini terbukti, Buku La Tahzan telah diterbitkan oleh puluhan penerbit dan mencapai angka penjualan fantastis, serta diterjemahkan ke dalam 29 bahasa dunia.
Nah, bagi yang ingin menikmati Buku La Tahzan, silahkan klik di sini
Sumber : http://indoking.blogspot.com/
Kamis, 18 September 2014
Download MP3 Murottal Alquran 30 juz lengkap dengan
terjemahan bahasa Indonesia saat ini bisa anda download melalui Byanvika
Blog ini, dengan mendengarkan MP3 murottal Alquran beserta terjemahannya
diharapkan akan lebih memudahkan kita untuk bisa memahami isi yang terkandung
didalam Alquran,
terutama bagi kita yang kurang memahami bahasa Arab.
Mp3 Alquran dan terjemahan dalam bahasa indonesia yang akan saya share ini
dibaca oleh Imam Mishary Rashid Alafasy, seorang Imam Qori' yang berasal dari kuwait
dan sudah terkenal akan kemerduan suaranya yang khas.
Berikut MP3 Alquran beserta terjemahannya dalam bahasa
indonesia
Semoga bermanfaat .
Sabtu, 13 September 2014
Kitab tafsir ibnu katsir merupakan karya terbaik dan paling populer dari ismail bin katsir diantara karya tulis beliau yang lain, kitab tafsir karya beliau sangat terkenal dikalangan umat islam dan merupakan kitab tafsir Alquran yang paling banyak dicari.
Ismail bin katsir menulis dan menyusun kitab tafsir Alquran yang lebih dikenal dengan tafsir ibnu katsir, kitab tafsir beliau sampai saat ini masih merupakan kitab tafsir Alquran rujukan dalam dunia islam.
Silahkan Klik disini
Semoga Bermanfaat .
Rabu, 10 September 2014
Hal ini dilakukan ketika kita lupa dengan nomor hp sendiri. Langsung saja simak caranya di bawah ini:
Telkomsel (Simpati dan AS):
Ketik : *808# Call
Kartu XL:
Ketik : *123*7*3*1*1# kemudian tekan tombol Call
Kartu Indosat ( Im3 dan Mentari ):
Ketik : *777*8# kemudian tekan tombol Call
Kartu Axis:
Ketik : *2# kemudian tekan tombol Call
Kartu Three:
Ketik : *998# kemudian tekan tombol Call
Kartu Smartfren:
Ketik : *551# kemudian tekan tombol Call
Kartu Flexi:
Ketik : INFO lalu kirim ke 678
Untuk Operator CDMA Hp Flexi, ESIA, StarOne, SMART dan FREN bisa kita gunakan bantuan HP Nokia type CDMA :
Ketik : *3001#kode pengaman#.
Contoh : *3001#12345# Lalu tunggu sampai keluar Menu, pilih NAM1 kemudian geser kebawah pilih “Own number (MDN)”.
Maka akan terlihat nomer pribadi kartu Anda.
Semoga dapat bermanfa'at
Cara Mendownload Aplikasi Android dari Google Play Melalui PC/Komputer
Melalui Google Play sobat memang bebas mengakses semua aplikasi dan permainan yang ada.
Namun sayang, untuk mendownloadnya masih harus melalui sambungan perangkat Android yang digunakan dengan Google Account.
Dan terkadang kita berfikir ratusan kali ketika ingin mendownload file APK Android di Google Play Store melalui smarphone jika filenya berukuran besar mengingat harga paket internet mahal dan ingin hemat quota.
Dalam benak sobat pasti terlintas seandainya saja ada cara untuk mendownload file tersebut Melalui PC atau Komputer. Ada kok sobat! Aplikasi dari Google Play dapat didownload melalui komputer dengan mengikuti tutorial dari Indoking ini. Jika download melalui komputer, selain kecepatannya lebih cepat, file APK yang didownload bisa Sobat simpan sebagai backup.
Download File APK dari Google Play Lewat Komputer
Download File APK via PC
Berikut langkah-langkah tentang Cara Mendownload Aplikasi Android dari Google Play Melalui PC/Komputer:
1. Buka halaman Google Play Store melalui link https://play.google.com/store.
2. Pilih Aplikasi/Game yang ingin sobat download.
3. Copy URL Aplikasi/Game tersebut yang berada di Address bar. Silahkan sobat lihat contoh gambar di bawah ini yang ditandai warna merah.
Download File APK dari Google Play Lewat Komputer
4. Selanjutnya sobat buka situs APK Downloader.
5. Paste URL Aplikasi/Game tadi pada kolom yang disediakan, kemudian klik "Generate Download Link".
Download File APK dari Google Play Lewat Komputer
6. Akan muncul informasi rincian dari aplikasi tersebut, jika dirasa benar, sobat dapat melanjutkan ke proses download dengan mengklik tombol "Click here to download" yang berwarna hijau.
Download File APK dari Google Play Lewat Komputer
Jika proses download sudah selesai, sobat tinggal memindahkan file yang didownload tadi ke smartphone atau perangkat Android milik sobat. Oh ya, aplikasi dan game yang bisa didownload menggunakan bantuan APK Downloader ini hanya yang Free alias Gratis, untuk yang berbayar sayangnya tidak bisa. Sekian Tutorial Cara Mendownload Aplikasi Android dari Google Play Melalui PC/Komputer
Semoga dapat bermanfaat.
http://indoking.blogspot.com/
6 Tips Melindungi Perangkat Android dari Program Jahat
Tingkat adopsi perangkat mobile terus meningkat, dan Android memimpin sebagai sistem operasi mobile paling laris. Basis pengguna yang besar ini menarik perhatian penjahat siber untuk melakukan aksi pencurian data dengan menyisipkan program jahat (malware) dalam sebuah aplikasi digital.
Bukan tidak mungkin para penjahat siber dapat melakukan pencegatan pesan, memonitor panggilan telepon, mencuri informasi pribadi, bahkan menyadap mikrofon ponsel Anda.
Ponsel atau tablet saat ini telah seperti komputer pribadi, tempat di mana pengguna menyimpan data-data yang sifatnya pribadi. Untuk melindungi data-data tersebut, ada baiknya Anda mengambil langkah untuk menghindarinya. Berikut tipsnya:
Unduh dari toko aplikasi resmi
Sangat penting mengunduh aplikasi Android yang bersumber dari toko aplikasi resmi dan punya kredibilitas dalam hal keamanan, seperti Google Play Store, Amazon, Samsung atau dari toko aplikasi yang disediakan perusahaan operator telekomunikasi.
Tim pengelola toko aplikasi tersebut diharapkan telah melakukan evaluasi atas setiap aplikasi yang mereka publikasi. Jika ditemukan ada program jahat dalam aplikasi, mereka akan meminta pengembang untuk menghilangkannya atau bahkan tidak memberi izin publikasi.
Aplikasi mencurigakan
Meski ada di toko aplikasi resmi, namun Anda harus tetap waspada karena terkadang ada aplikasi gadungan yang seakan terlihat seperti aplikasi asli.
Contohnya adalah aplikasi yang mengatasnamakan BlackBerry Messenger (BBM) untuk Android yang muncul di Google Play Store pada September 2013. Aplikasi tersebut dipastikan palsu, dan anehnya, sebanyak 100 ribu orang terkecoh karena telah mengunduhnya. Aplikasi itu tak lebih dari sebuah layanan spamming.
Ini membuktikan bahwa perusahaan sekelas Google pun, kurang memberi perhatian atas aplikasi yang dipublikasi di Play Store. Aplikasi gadungan di Play Store sempat memiliki jumlah cukup banyak, bukan hanya satu atau dua buah.
Jika Anda menemukan sebuah aplikasi yang mencurigakan, seperti BBM gadungan di atas, sebenarnya ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mengantisipasinya. Lihatkan nama perusahaan/pengembang/penerbit yang merilisnya. Aplikasi BBM sudah pasti dirilis oleh BlackBerry Limited, sebagai pemegang merek BlackBerry dan BlackBerry Messenger.
Selain itu, sebaiknya Anda juga membaca ulasan atas aplikasi yang dinilai mencurigakan. Jika semua ulasan memuji-muji secara berlebihan, atau struktur bahasanya kurang lebih sama, Anda patut curiga padanya. Karena, bisa jadi itu adalah tipuan belaka dari penjahat siber.
Hindari aplikasi bajakan
Ahli keamanan Bogdan Botezatu, dari BitDefender, memperingatkan bahaya yang ditimbulkan dari sebuah aplikasi bajakan dari sumber atau toko aplikasi yang tidak jelas.
Menurut Botezatu, para penjahat siber mampu mengambil paket aplikasi Android yang sah (dengan format .APK), lalu menyusupi program jahat dalam aplikasi tersebut dengan proses yang relatif sederhana.
Kebanyakan aplikasi bajakan, atau yang didapat dari sumber yang tidak jelas, mengandung beberapa bentuk program jahat. Selain itu, pembajakan juga merupakan bentuk tidak menghormati hak cipta pembuat aplikasi.
Pengaturan
Google sebenarnya telah menyediakan sejumlah pengaturan pada sistem operasi Android untuk mencegah serangan berbahaya. Android versi 2.2 (Froyo) dan versi di atasnya, pada dasarnya telah menyediakan fasilitas untuk memindai program jahat.
Ketika Anda mengunduh dan memasang aplikasi dari sumber tidak resmi, Android memberi peringatan atas setiap potensi ancaman. Bagi perangkat Android yang menjalankan sistem operasi versi 4.1 atau lebih tinggi, dapat mengakses fitur tersebut dengan masuk ke Settings / Security / Verify apps.
Selain itu, perangkat yang menjalankan Android versi 4.2 atau lebih tinggi juga dilindungi dari biaya SMS premium. Akan muncul pemberitahuan jika ada sebuah aplikasi yang mencoba untuk mengirim pesan teks menggunakan layanan premium, di mana Anda dapat menentukan apakah akan menyetujui atau menolaknya. Fitur ini sudah ada di sistem operasi Android dan tidak perlu diaktifkan.
Software updates
Jika tersedia pembaruan perangkat lunak (software) pada ponsel Anda, pastikan lah mengunduh dan memasangnya. Google atau vendor akan terus mendorong pembaruan perangkat lunak Android untuk memperbaiki celah, meningkatkan performa, dan menambah fitur baru agar membuat perangkat lebih aman.
Untuk memeriksa pembaruan perangkat lunak ini, Anda masuk ke Settings / About phone atau About tablet / System Updates.
Aplikasi antivirus
Google Play Store juga merupakan rumah bagi ratusan aplikasi antivirus yang menawarkan tambahan lapisan keamanan. Jika mencari dengan kata "antivirus" di Play Store, Anda akan menemukan lebih dari 250 aplikasi.
Perusahaan seperti Avast, AVG, BitDefender, Kaspersky, Sophos, Symantec (Norton), dan TrendMicro, merupakan perusahaan dan merek terpercaya di industri serta punya pengalaman panjang untuk urusan perangkat lunak antivirus.
Selain itu, pendatang baru Lookout dan TrustGo juga berhasil membangun nama mereka sebagai aplikasi antivirus untuk Android. Lembaga keamanan AV-Test pada awal 2013 menempatkan Lookout dan TrustGo sebagai aplikasi antivirus yang baik untuk Android .
Copast http://indoking.blogspot.com/
Rabu, 03 September 2014
Bismillahirrahmanirrahiim....
Coretan ini dibuat sebagai materi pembelajaran pribadi khususnya.
Mudah-mudahan ada pelajaran yang bisa dipetik oleh kita semua.
Agar kita sama-sama bisa mengingat dan belajar kembali tentang
beberapa etika yang sering terlupa ketika berkomentar dan menulis.
Penulis persempit lagi dalam scope dunia maya, mengingat poin yang
akan dibawakan banyak terkait dengan kehidupan dunia maya yang sarat dengan
komunikasi tulisan.
1. Pentingnya klarifikasi pemahaman
Ketika berinteraksi dalam dunia maya, kita hanya banyak
berkomunikasi dan berdialog lewat tulisan. Tulisan pada dasarnya merupakan
representasi dari buah pikiran dan duta lidah, ketika lisan dalam artian
sebenarnya tidak mungkin berkata.
Bagi pembaca:
Coba kita mengulangi membaca tulisan tersebut dengan benar, teliti
dan seksama. Lalu mengendapkan maksud perkataan tersebut sehingga kita bisa
menyelami alam pemikiran sang penulis.
Seringkali kita terburu-buru baru
membaca sekilas, atau bahkan sepotong-potong dan belum dapat menangkap makna
keseluruhan yang dimaksud penulis, langsung membuat konklusi akhir dan
mengultimatum “dar der dor” berkomentar.
Baik kiranya jika kita berlatih
membiasakan mengklarifikasikan ulang apa yang dimaksud oleh si pembuat tulisan
dengan bertanya dan memenuhi segala adabnya.
Di antara adabnya adalah tidak
menghakimi; santun dan sopan, mengingat ranah tulisan sangat berpotensi membuka
peluang perbedaan persepsi antara si pembuat tulisan dan pembaca.
Bisa jadi si
pembaca memiliki persepsi subyektif atas pemahaman pemikirannya yang ternyata
sangat bertolak belakang dengan maksud yang dikehendaki oleh si pembuat
tulisan, karena setiap orang memiliki tingkat pemahaman dan kualitas ilmu yang
berbeda.
Baiklah, bisa jadi kita pemahaman kita sama dengan apa yang
dimaksud penulis, atau mungkin Allah telah menganugrahkan kepada kita sebuah
kecerdasan berupa mudahnya memahami dan menggali maksud perkataan orang lain.
Akan tetapi, tidak ada salahnya kita mencoba mengulangi dan menanyakan kembali
apakah memang demikian yang dimaksud penulis, terlebih pada perkara yang
sensitif dan bisa memberikan pemahaman yang ambigu, baik itu tentang agama
ataupun urusan dunia. Karena kita tidak selalu diharuskan menanyakan kembali
untuk meyakinkan apa yang dimaksud penulis, jika memang mafhuum-nya sudah
sedemikian gamblang dan jelas.
Maka sekali lagi, budayakanlah kebiasaan bertanyalah pada si
pembuat tulisan tentang maksud yang dimaui oleh penulisnya (dengan santun dan
tidak menghakimi tentunya). Semisal, “Apakah maksud Anda/ukhti/saudari begini?”
Bagi penulis:
Berkaca dari realita, bahwa setiap manusia dengan berbagai latar
belakang yang dimilikinya, memiliki kerangka pemahaman yang bisa jadi berbeda
terhadap sesuatu. Oleh karena itu, akan jauh lebih baik jika kita ditanya
tentang suatu perkara yang kita tulis, .bantulah si penanya dengan cara
menjelaskan dengan baik (tanpa banyak menghakimi, merendahkan, menghina,
apalagi berkata yang cukup sinis seolah-olah sedang “mencocok hidung” orang)
kepadanya untuk memahami apa yang kurang jelas baginya.
2. Menghindari sikap mudah menghakimi
Janganlah kita bermudah-mudahan menjadi pribadi yang mudah
mengkhakimi, yang mudah menjatuhkan “vonis” miring demikian dan demikian kepada
orang lain. Mengapa kita tidak bermudah-mudahan berprasangka baik, membuat
sebegitu banyak udzur dan membawa kelakuan dan perkataan orang lain ke pikiran
positif dan kemungkinan terbaik? Selain itu membuahkan pahala, sesuai dengan
syariat, tentu itu lebih menentramkan hati kita dan hati orang lain. Sebagaimana
Anda tidak suka disudutkan demikian dan demikian kendati jika benar itu ada
pada diri Anda (terlebih jika Anda tidak merasa demikian), maka janganlah
berbuat begitu kepada orang lain.
‘Umar bin Khaththab berkata, “Jangan menyangka buruk terhadap
saudaramu apabila masih mungkin dimaknai dengan makna yang baik”.
Imam Muhammad bin Sirin berkata, “Jika sampai kepadamu berita
miring tentang saudaramu maka cobalah carikan uzur baginya. Jika tidak
mendapartkan maka katakanlah mungkin ia memiliki alasan [yang belum
kuketahui-ed]. Karena ketika kamu mencarikan alasan untuk saudaramu maka jiwamu
akan terhaindar dari sikap buruk sangka dan dampak buruknya sehingga kamu tidak
akan mencacinya” [1]
3. Meluruskan yang “bengkok” dengan lembut, santun, hikmah dan
sabar
Meluruskan sesuatu, baik terkait dengan perkara dunia terlebih
pada perkara din hendaknya dilakukan dengan lembut, santun, hikmah dan sabar,
terlebih jika kita sudah menginjak pada stase berdakwah yang memang ada
ketentuan adab dan metodenya di dalam syariat.
Sedikit menyinggung tentang metode berdakwah, tongkat ketegasan
bahkan disertai sikap yang tidak lagi lembut dalam berdakwah seperti hajr
(memboikot;mendiamkan) dan lain-lain, barulah digunakan ketika ada mashlahat
yang diraih dengan cara demikian. Dahulu pun, ketika Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam menerapkan metode dakwah yang tidak lagi lembut seperti
menegur dengan keras ketika Beliau marah dalam perkara agama, dan bahkan
meng-hajr, itu ditujukan bagi sebagian sahabat dengan melihat kesalahan dan
mashlahat yang ditimbulkan ketika diterapkan cara yang tidak lagi lemah lembut.
Kita semua kiranya tahu bahwa hukum asal dakwah adalah dengan nasihat yang
baik, perkataan lembut dan hikmah. Apalagi kita di sini adalah wanita, yang
sesuai dengan fitrah adalah makhluk yang halus jiwanya. Maka diharapkan dakwah
dengan lembut cenderung lebih disukai, lebih diterima dan membekas di dalam
jiwa wanita.
Kebenaran itu pun sudah bersifat pahit dan berat bagi jiwa
kebanyakan orang, apakah kita akan menambah pahit dan beratnya itu dengan sikap
kita yang kasar, semena-mena dan tidak berbudi dalam berdakwah yang akan
membuat orang lari dari dakwah salafiyyah?
4. Seni mengkritik
Setiap individu bisa jadi memiliki porsi karakter yang berbeda
dengan lainnya. Oleh karena itu, cara menasihati dan mengkritik kesalahannya
pun seringkali berbeda. Akan tetapi, terlepas dari tinjauan itu semua, kiranya
akan jauh lebih baik apabila kita memberikan saran dan kritik yang membangun
bagi orang lain, bukan malah menghancurkannya. Kita tidak menutup mata bahwa
ada orang yang tidak mau dikritik bagaimanapun cara mengkritiknya, dan
orang-orang yang enggan dikritik *malah meradang* itu , kita sisihkan sejenak
dari pembahasan kita. Kebanyakan, jiwa lebih menyukai sesuatu yang diungkapkan
dengan baik, lembut, hingga itu mengena di jiwanya. Kritikan yang membangun
bukanlah semacam pelor yang kita muntahkan dari lisan kita, hingga kita bebas
lepas membordardir seseorang dengan perkataan pedas yang kita berikan.
Alih-alih berubah, malah bisa jadi dia tambah mengkeret dan tutup telinga
karena jiwanya terlanjur begitu tersakiti, dan hatinya pun tersinggung akibat
perkataan kita.
Sama halnya dengan berdakwah, mengkritik pun selayaknya dilakukan
dengan santun dan tidak menjatuhkan harga diri yang dikritik.
5. Bertindak dengan ilmu
Point kelima ini, penulis lebih menitikberatkan pada hal agama,
meskipun ini juga banyak terkait dengan ilmu yang lain, sehingga orang
selayaknya tidak asal ceplos saja ketika menjabarkan sesuatu. Lain halnya ketika
memang subjek pembicaraannya cenderung ringan dan tidak terkait dengan perkara
agama atau perkara yang membutuhkan ilmu, hingga memungkinkan opini pribadi
bahkan bersifat subyektif bermain di dalamnya.
Apabila kita memiliki ilmu agama, tentunya berdasarkan pemahaman
As-Salaf Ash-Shalih, cukupkanlah saja untuk menyampaikan sekadar yang kita tahu
dan jauhi berkata tentang agama tanpa ilmu. Terlebih jika kita sudah merambah
ke hukum syariat. Tentunya kita takut dan senantiasa berlindung dari kesyirikan,
dengan membuat atau merubah hukum syariat dan menjadikan Allah sebagai
tandingan karena Allah adalah satu-satunya pembuat syariat. Wal’iyaadzubillaah.
Oleh karena itu, sekali lagi hendaknya kita pertimbangkan dan filter lah dahulu
komentar kita. Bukankah itu akan dihisab dan dipertanggungjawabkan nantinya?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ
وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai
pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati,
semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (Qs. Al-Isra’ : 36)
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّىَ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
وَمَا بَطَنَ وَٱلْإِثْمَ وَٱلْبَغْىَ
بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُوا۟ بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ
بِهِۦ سُلْطَٰنًۭا وَأَن تَقُولُوا۟ عَلَى
ٱللَّهِ مَا لَا
تَعْلَمُونَ
“Katakanlah: “Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik
yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia
tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu
yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan
terhadap Allah apa saja yang tidak kamu ketahui (berbicara tentang Allah tanpa
ilmu)” (Qs. Al-A’raf:33)
Dari Sa’id bin Musayyab rahimahullah, bahwa ia melihat seseorang
mengerjakan lebih dari dua rakaat shalat setelah terbit fajar. Lalu beliau
melarangnya. Maka orang itu berkata, “Wahai Sa’id, apakah Allah akan menyiksa
saya karena shalat?”, lalu Sa’id menjawab :”Tidak, tetapi Allah akan menyiksamu
karena menyalahi sunnah”
(SHAHIH. HR Baihaqi dalam “As Sunan Al Kubra” II/466, Khatib Al
Baghdadi dalam “Al Faqih wal mutafaqqih” I/147, Ad Darimi I/116)[3]
6. Si sen-C dan cenderung emosional
Kita memang wanita, yang secara kodrati penuh dengan kebengkokan,
cenderung berpikir dan bertindak dengan emosi. Terlebih kalau nyatanya kita
termasuk pribadi yang sensitif, yang seringkali memaknai perkataan dan tulisan
orang lain atas dasar buah pemikiran kita sendiri. Kita pun masih dalam tahap
belajar dalam segala aspek. Ya belajar mengilmui, belajar mengamalkan,
mendakwahkan serta bersabar di atas semuanya itu. Maka, tidak bisa dibenarkan
bahwa keadaan kodrat kita yang memang “bengkok” itu dijadikan tameng untuk
bermudah-mudahan bertindak berdasarkan emosi kita.
Apabila nyatanya kita terpancing emosi lawan bicara kita,
Tahan lidah kita untuk membalas perkataannya dengan cacian,
hujatan, kecaman dan perkataan negatif lainnya. Jika kita tidak bisa mengatakan
yang baik, maka diamlah saja.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah
shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah
dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman
kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan
barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia
memuliakan tamunya” (HR.Bukhari dan Muslim)
Bersikaplah tenang dan lakukanlah adab ketika marah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Ada seorang
lelaki yang berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berikanlah
wasiat kepadaku”, maka beliau bersabda, “Janganlah kamu marah”. Lalu dia
mengulangi permintaannya beberapa kali, akan tetapi beliau tetap saja menjawab,
“Janganlah kamu marah” (HR. Bukhari).
Marah terbagi menjadi dua: Ada yang terpuji dan ada yang tercela.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun pernah marah. Akan tetapi, Beliau marah
karena Allah, bukan karena marah mudah terpancing emosi -terlebih akibat
perkara dunia- seperti kita.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) :
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada
surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang
yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu
lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memberi maaf
orang lain, dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al
Imran: 133-134)
Apabila kita marah…ber-ta’awwudz saja, lalu wudhu, dan berganti
posisi.[2]
Hawa nafsu sebagai sesembahan?
Sudah menjadi keharusan bagi kita untuk selalu berusaha
mengenyahkan hawa nafsu kita dan berpegang teguh pada syariat. Di antara celah
yang mungkin menggelincirkan wanita ke dalam jebakan setan dan menyeret dia ke
siksa neraka, adalah lewat emosinya. Mengerikan sekali dan kita berlindung dari
godaan syetan dan hawa nafsu, yang bisa menjerumuskan kita bahkan hingga
tingkat ekstrim yakni menjadikan hawa nafsu sebagai sesembahan kita.
Wal’iyaadzubillaah. Allah berfirman,
أَفَمَن كَانَ عَلَىٰ بَيِّنَةٍۢ مِّن رَّبِّهِۦ كَمَن زُيِّنَ لَهُۥ
سُوٓءُ عَمَلِهِۦ وَٱتَّبَعُوٓا۟أَهْوَآءَهُم
“Maka apakah orang yang berpegang dengan keterangan (hujjah yang
datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (setan) menjadikan dia memandang
baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya?” (Qs.Muhammad:14)
Allah berfirman,
أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ
عَلَىٰ عِلْمٍۢ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ
وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ
غِشَٰوَةًۭ فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا
تَذَكَّرُونَ
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai sesembahannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah
telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas
penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah
(membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Qs.
Al-Jaatsiyah:23)
7.Masukan bagi siapapun yang akan menulis (penulis)
Pemahaman dan sudut pandang orang seringkali berbeda dalam
menyikapi sebuah tulisan. Oleh karena itu, seyogyanya seorang penulis juga
memperhatikan kondisi para pembaca. Ketika menulis, ada baiknya bertanya kepada
diri sendiri, “Kira-kira kalau ada orang awam yang membaca begini, paham tidak
ya maksudnya?“. Dengan begitu, dia akan berusaha mencari diksi kata untuk
mendekatkan maksud apa yang dikehendaki sebisa mungkin, dan menghindarkan orang
lain dari pemahaman yang keliru. Sikap seperti termasuk salah satu adab dalam
berdakwah yakni berdakwah dengan memperhatikan kondisi obyek dakwah baik dari
segi latar belakang agama, pendidikan atau yang lainnya. Sudah berusaha
didekatkan saja, bahkan diulang, di bawahnya ditulis lagi agar tidak kontradikitif,
untuk lebih menjelaskan, terkadang pembacanya belum bisa menyamakan persepsi
dengan penulis.
Penulis juga mengharap terbukanya pintu maaf bagi orang-orang yang
merasa poin-poin di atas pernah saya lakukan. Penulis sedang berusaha dan
belajar. Jadi, mari kita sama-sama saling mengingatkan. Wallaahu a’lam.
Note ini di Copast dari salah satu sumber
Minggu, 31 Agustus 2014
12 PENGHALANG DALAM MENUNTUT ILMU
Menuntut ilmu memiliki beberapa penghalang yang menghalangi antara ilmu itu dan orang yang mencarinya. Di antara penghalang tersebut adalah:
1. Niat yang Rusak
Niat adalah dasar dan rukun amal. Apabila niat itu salah dan rusak, maka amal yang dilakukannya pun ikut salah dan rusak sebesar salah dan rusaknya niat.
2. Ingin Terkenal dan Ingin Tampil
Ingin terkenal dan ingin tampil adalah penyakit kronis. Tidak seorang pun dapat selamat darinya, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Ta’ala.
Apabila niat seorang penuntut ilmu adalah agar terkenal, ingin dielu-elukan, ingin dihormati, ingin dipuji, disanjung, dan yang diinginkannya adalah itu semua, maka ia telah menempatkan dirinya pada posisi yang berbahaya.
3. Lalai Menghadiri Majelis Ilmu
Jika kita tidak memanfaatkan majelis ilmu yang dibentuk dan pelajaran yang disampaikan, niscaya kita akan gigit jari sepenuh penyesalan. Seandainya kebaikan yang ada dalam majelis-majelis ilmu hanya berupa ketenangan bagi yang menghadirinya dan rahmat Allah yang meliputi mereka, cukuplah dua hal ini sebagai pendorong untuk menghadirinya. Lalu, bagaimana jika ia mengetahui bahwa orang yang menghadirinya -insya Allah- memperoleh dua keberuntungan, yaitu ilmu yang bermanfaat dan ganjaran pahala di akhirat?!
4. Beralasan dengan Banyaknya Kesibukan
Alasan ini dijadikan syaitan sebagai penghalang dalam menuntut ilmu. Berapa banyak saudara kita yang telah dinasihati dan dimotivasi untuk menuntut ilmu syar’i, tetapi syaitan menggoda dan membujuknya.
Orang yang menyia-nyiakan kesempatan mencari ilmu, maka kesibukannya membuat ia tidak dapat menghadiri majelis ilmu. Ia menjadikannya sebagai bahan alasan yang sengaja dibuat-buat sehingga ketidakhadirannya di majelis ilmu memiliki alasan yang jelas.
5. Menyia-nyiakan Kesempatan Belajar di Waktu Kecil
6. Bosan dalam Menuntut Ilmu
7. Menilai Baik Diri Sendiri
8. Tidak Mengamalkan Ilmu
Tidak mengamalkan ilmu merupakan salah satu penyebab hilangnya keberkahan ilmu.
9. Putus Asa dan Rendah Diri
Putus asa dan tidak percaya diri merupakan salah satu sebab tidak diperolehnya ilmu.
Jangan merasa rendah diri dengan lemahnya kemampuan menghafal, lemah dalam pemahaman, lambat dalam membaca, atau cepat lupa...
Semua penyakit ini akan hilang jika kita meluruskan niat dan mencurahkan usaha.
Imam al-Bukhari (wafat th. 256 H) rahimahullaah pernah ditanya, “Apakah obat lupa itu?”
Beliau menjawab, “Senantiasa melihat ke kitab.” (yaitu selalu membaca dan mengulangnya).
Selain itu, menjauhi maksiyat adalah sebab paling utama dalam membantu menguatkan hafalan. Jadi kita tidak boleh putus asa dan rendah diri, namun kita harus bersungguh-sungguh dan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.
10. Terbiasa Menunda-nunda
Seorang ulama Salaf berkata, “Menunda-nunda adalah termasuk tentara iblis.”
Setiap orang yang ingin mendapatkan ilmu dan ingin berkepribadian sebagaimana orang yang berilmu, hendaklah tidak menyia-nyiakan waktunya sedikit pun. Sesungguhnya jika seseorang mau membaca sejarah tentang kesungguhan ulama Salaf dalam memanfaatkan waktunya ia akan merasa takjub sekaligus heran.
11. Belajar kepada Ahlul Bid’ah
Seorang penuntut ilmu tidak boleh belajar kepada Ahlul bid’ah karena ia (ahlul bid’ah) merasa ridha dengan sesuatu yang menyelisihi agama Allah, seolah-olah ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam belum sempurna dalam menyampaikan seluruh risalah.”
Tidak diragukan apabila seorang penuntut ilmu bermajelis dengan orang yang memiliki sifat di atas maka ia akan memperoleh kejelekan, dan tidak ada yang datang kepadanya, kecuali berbagai kerusakan. Karena, meskipun orang yang bermajelis dengannya tidak mengamalkan bid’ahnya, maka paling tidak ia mendapatkan syubhat (keraguan) darinya sehingga ia menjadi bingung dalam segala urusannya.
12. Tergesa-gesa Ingin Memetik Buah Ilmu
Seorang penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa dalam usahanya untuk memperoleh ilmu. Menuntut ilmu tidak cukup dilakukan satu atau dua tahun karena yang demikian menyalahi jalan Salafush Shalih. Menuntut ilmu agama tidak bisa melalui jalan kursus atau belajar dengan singkat. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam saja menerima wahyu selama 23 tahun.
[Diringkas dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]
silahkan baca penjelasannya di:
http://almanhaj.or.id/content/3278/slash/0/penghalang-dalam-menuntut-ilmu-tidak-mengamalkan-ilmu-putus-asa-dan-rendah-diri/
http://almanhaj.or.id/content/3280/slash/0/penghalang-dalam-menuntut-ilmu-niat-yang-rusak-ingin-terkenal-dan-ingin-tampil/
http://almanhaj.or.id/content/2307/slash/0/menuntut-ilmu-jalan-menuju-surga/
Minggu, 24 Agustus 2014
(Pengalaman nyata Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, Msc. yang menghafal Al-Quran di usia 40 Tahun)
Semuanya bermula saat aku masih kuliah di IPB, Institut Pertanian Bogor. Pada suatu kesempatan, aku dan teman sekelasku mendapatkan tugas yang-mungkin- bagi sebagian orang sangat sepele, tapi tidak untukku.
Dosen menyuruh kami untuk menulis Surat Al-Fatihah dalam bahasa arab. Aku yang saat itu adalah mahasiswa yang sangat buta atau bahkan tidak memiliki basic agama sama sekali, hanya bisa diam membisu. Ya, aku terlahir bukan dari keluarga pesantren, juga keseharianku tidak begitu bergelut dengan yang namanya kajian keagamaan. Jangankan Surat Al-Fatihah, huruf hijaiyah pun tak ada yang aku hafal. Kala itu aku benar-benar tersudutkan. Sampai waktu yang diberikan selesai, lembaranku tetap saja putih bersih tanpa ada goresan pena sedikitpun. Aku hanya berharap semoga dosen mengerti kedaanku, keadan yang tak tersentuh pendar-pendar keislaman ini.
Jujur! Hari itu benar-benar membuatku terusik. Peristiwa itu seakan telah menjorokkanku ke dalam lubang yang paling dalam. Tapi kejadian itu tidak berlalu begitu saja dengan peninggalannya yang sangat menyakitkan itu. Ada satu hal yang membekas dalam fikiranku dan sepertinya aku harus benar-benar membidaninya. Ya, aku ingin belajar Al-Qur’an.
Saat itu tak banyak yang ingin aku kuasai dari yang namanya Al-Qur’an. Aku hanya ingin belajar membacanya. Ya, sebatas membacanya. Aku mulai menyisihkan waktu untuk mengeja huruf-huruf Tuhan itu. Bahkan saat aku tengah menempuh perjalanan dari Jakarta-bogor dengan bus, sesekali aku juga mendekte lisanku dengan huruf-huruf suci itu. Entahlah ! Kekuatan apa yang merasuk ke dalam saraf-sarafku hingga aku begitu menggiati kebiasaan yang tak pernah aku jalani sebelumnya. Dan setelah beberapa lama -akhirnya- upayaku benar-benar berbuah manis. Meski tidak sempurna, tapi aku sudah bisa membacanya. Sebuah pencapaian yang menurutku sangat memuaskan.
Tapi taqdir membawaku ke alur yang sedikit berkelok. Setelah lulus sarajana dari IPB, aku ditugaskan ke Kanada dalam rangka kuliah lanjutan di Bidang Tekhnologi. Aku yang lulusan Institut Pertanian kemudian harus mendalami tekhnologi yang –sejatinya- bukan fakku, tentu ini akan menjadi proses panjang yang banyak menyita kesabaran dan menghadirkan keluh yang mendalam.
Dan itu benar-benar terjadi. Hari-hariku di Kanada penuh dengan tekanan batin dan masalah-masalah yang membuatku rentan depresi dan setress. Tidak hanya masalah kuliah yang bukan fakku, tetapi kultur yang begitu bebas dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang beradab juga menjadi beban pikiranku. Aku kawatir kalau-kalau aku terlarut di dalamnya. Dan satu lagi, kebiasaanku menyelisik ayat-ayat Tuhan juga semakin terkikis. Hm…panorama Kanada dan karakteristik Kanadian tak bersepaham dengan nuraniku.
Namun selang beberapa tahun, tepatnya 4 tahun keberadaanku di Kanada, babak baru dalam hidupku dimulai. Dalam ketidakstabilanku dan lalaiku pada kitab-Nya, Tuhan mempertemukanku dengan mahasiswa berdarah Sudan, Yahya Faddallah Al-Hafidz. Aku sering memanggilnya dengan sebutan Brother Yahya. Dia seorang hafidz (hafal Al-Qur’an), teguh dan berkomitmen terhadap agamanya. Sehingga sering sekali aku menemukan dan mendengar lantunan ayat-ayat Tuhan keluar dari kedua bibirnya. Bahkan saat berdialog dengan teman sejawat pun, ayat-ayata Tuhan sering kali mewarnai perkataannya. Dialah yang akhirnya mengajariku untuk kembali mengeja ayat-ayat Tuhan.
Hari demi hari aku belajar padanya. Dan aku baru tahu, bacaan Al-Quran yang dulunya aku anggap cukup baik ternyata tidak seberapa benar ketika aku perdengarkan pada Brother Yahya. Dari situlah aku mulai tertantang. Ada rasa keingintahuan yang mendalam dalam benakku, tentang bagaimana seharusnya Ayat-ayat itu dibaca.
Sesekali aku juga mulai mencari-cari keistimewaan yang tertabiri dibalik ayat-ayat Al-Qur’an. Dan lama-kelamaan aku pun bisa menyingkap tabir kerahasiann itu, meski hanya sedikit. Aku menemukan ayat tentang Al-qur’an sebagai obat (Syifa’) untuk segala jenis penyakit (QS. Al-isra’ :82). Diam-diam aku seperti ingin menguji kebenaran Al-Qur’an. Setiap kondisiku diganjali masalah, selalu aku upayakan untuk membaca Al-Qur’an. menjadikan Al-Qur’an sebagai obat dan pelipur lara. Dan sungguh Allah dzat yang Haq dan Ahaq. Selalu saja aku temukan solusi-solusi saat aku menghadapi masalah dan aku lari pada Al-Qur’an.
Tidak sampai di situ. Aku juga mulai mencoba mengait-ngaitkan dan menganlogikan kitab suci itu dengan apa yang ada di sekitarku. Pernah suatu kesempatan aku berpikir bahwa komputer itu tanpa adanya operating system tak ubahnya seperti bangkai yang tak berguna. Hanya seonggok besi yang didesign apik tapi tak menampakkan nilai-nilai kebermanfaatan sama sekali. Lalu aku pun berpikir bahwa manusia juga mesti memiliki operating system. Karena dari operating system itulah manusia kemudian bisa memotretkan nilai-nilai kebajikan. Dan klimaksnya, Tuhan kemudian membuka pikiranku untuk menjangkau Kalam-Nya. Sehingga aku diketemukan dengan ayat yang secara tegas mengatakan bahwa islam itu adalah agama satu-satunya yang diterima Tuhan (QS. Ali-Imran : 19). Dan sejak itu kusimpulkan bahwa operating sytem yang mengatur manusia adalah Al-Islam. Ya, islam dengan kitab sucinya, Al-Qur’an.
Rupanya pemikiran itu benar-benar kuseksamai. Sehingga dia merasuk ke dalam hatiku dan membentuk bias semangat yang dahsyat. Aku semakin tertantang untuk memperdalam Al-Qur’an. Dan diam-diam aku mulai tertarik untuk mengikuti jejak Brother Yahya. Aku ingin menghafal Al-Qur’an, menjadi Hafidzul Qur’an seperti Brother Yahya.
Tapi, lagi-lagi Tuhan menggariskan berbeda. Dia belum menghendakiku untuk menghafal ayat-ayat suci-Nya. Kala itu, mungkin hatiku belum begitu bersih, sehingga nampaknya Tuhan belum mengizinkanku untuk mengecup firman-Nya. Ya, keinginan untuk menghafal Al-Quran itu muncul berbarengan dengan habis kontrak masa studiku. Sehingga aku harus kembali ke tanah kelahiran. Praktis, akan ada jarak yang menengahi perjumpaanku dengan Brother Yahya dan tentu aku tidak bisa lagi belajar padanya. Tapi apa hendak dikata. Ketetapan Tuhan sudah digariskan dan tidak ada yang dapat mengubahnya. Mungkin yang bisa kulakukan saat itu hanya berusaha menyelaraskan keinginan dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Berpositif thinking dan tidak mengkritisi keadilan-Nya.
Setelah kepulanganku dari Kanada, aku mulai disibukkan dengan profesi baruku sebagai dosen di IPB. Dan hari ke hari kesibukan demi kesibukan semakin memadati list agendaku. Tapi aku sangat bersyukur, meski kesibukan semakin menggunung, keinginan untuk menghafal Al-Qur’an rupanya tetap bersemayam dalam hati kecilku. Selama tujuh tahun keinginan itu hidup tanpa bapak. Karena hanya sebatas keinginan belum ada upaya untuk mewujudkannya sebab belum ada orang yang membimbingku. Sampai akhirnya aku diketemukan dengan KH. Mohammad Mudzaffar Al-hafidh. Beliau seorang Hafidz Qira’ah Sab’ah (tujuh model bacaan Al-qur’an) dan pimpinan pondok yang memiliki banyak santri dan semua santrinya adalah penghafal al-qur’an.
Dari pertemuan itu aku mulai menganyam kembali keinginan besar itu. Kuutarakan pada KH Mudzaffar perihal keinginan itu dan Alhamdulillah beliaupun mendukung sepenuhnya dan bersedia membimbingku. Lalu beliau menyuruhku untuk menghatamkan Al-Quran bin Nadhar (melihat) di hadapannya sampai tiga kali sebelum akhirnya aku diperbolehkan menghafal. Tak banyak yang aku tanggapi dari titah sang guru. Walau berat dan pastinya membutuhkan waktu yang lama, ku-iyakan saja perintahnya. Satu yang menjadi keyakinanku saat itu, bahwa sebagai murid sudah selayaknya aku mematuhi perintah guru selama tak menyeretku pada jurang kenistaan.
Dari perintah itu, aku mulai menyisihkan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Dan pengalaman lama kembali kutekuni. Aku kembali memanfaatkan waktu perjalananku dari Jakarta-Bogor yang –kurang lebih- satu jam itu untuk bersahabat dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Nyaris itu yang menjadi pekerjaanku selama di perjalanan. Bahkan saat aku menyetir sendiri pun, aku selalu menyalakan murattal agar Al-Qur’an bisa kudengarkan. Dan Alhamdulillah, proses yang memakan waktu 3 tahun itu akhirnya bisa kutaklukkan. Dan akhirnya, tepat saat umurku menginjak kepala empat, aku sudah hatam Al-Qur’an bin-Nadhar di hadapan KH. Mudzaffar, dan secara otomatis aku diperbolehkan menghafal Al-Qur’an.
Saat itu aku benar-benar merasakan prestasi yang besar, jauh lebih besar dari prestasi doktor dan professor yang selama ini telah aku dapatkan. Kini aku tengah maniti jejak sahabatku, Yahya Faddallah Al-hafidz, sebagai penghafal Al-Qur’an. Meski usiaku telah berumur dan kesibukan semakin menjamur, tapi aku tetap menekuni proses menghafal Al-Qur’an.
Bahkan sepertinya aku sudah semakin candu dengan Al-Qur’an.
Sehingga sesibuk apapun pekerjaanku selalu saja aku menyempatkan diri untuk menambah hafalan dan singgah di kediaman KH. Mudzaffar untuk simaan. Walau sebenarnya beliau tak memaksaku untuk selalu sima'an, tapi aku selalu berupaya untuk istiqamah dalam menambah hafalan dan sima’an. Dari satu ayat, dua ayat, tiga ayat, satu halaman, dua halaman, satu surat kemudian beralih ke surat berikutnya, berikutnya dan berikutnya sampai akhirnya tepat di usiaku yang ke 45 tahun, aku berhasil mengecup firman-Nya.
Ya, aku bisa menyelesaikan hafalan Qur’anku lengkap 30 juz. Semacam aku tidak percaya. Perjalananku selama ini yang aku anggap berkelok-kelok nyatanya sangat indah dan berbekas.
Kini, proses menghafalku telah usai tetapi perjuanganku untuk mensahabati Al-Qur’an masih terus berjalan dan akan terus berjalan hingga aku menutup mata. Sebari terus menjaga hafalan yang telah terukir rapi di dalam jiwa, aku berupaya untuk meluruskan langkah agar tidak menyelisihi nilai-nilai qur’ani.
Sangat naïf rasanya, saat ayat-ayata-Nya telah terpatri dalam hati, tapi tidak sedikitpun dipendarkan dalam elok prilaku.
Semoga Allah tetap menjagaku dari terjerumus ke dalam lingkar syaitan. Ya Allah! jangan jadikan Al-Qur’an bagiku sebagai sebab murka-MU karena aku melalaikan dan melupaknnya. Tetapi jadikan Al-Quran sebagai sebab keridhoan-Mu akan diriku karena aku bersahabat dan berprilaku atas tuntunannya. Amien!
• Tulisan ini berdasarkan penuturan langsung Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, Msc. saat kunjungan ke Masjid Ar-rahmah, Sabtu 12 januari 2013, namun disajikan dengan bahasa penulis (Mohammad Al Farobi). Semoga bermanfaat !
PROFIL SINGKAT
Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc
Guru Besar bidang Teknologi Komputer di Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) dan Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FAMIPA), IPB.
Menyelesaikan studinya pada strata S1 di IPB tahun 1983, dan strata S2 serta S3 di Faculty of Computer Science University of New Brunswick Canada pada tahun 1989 dan 1993. Bidang riset yang ditekuni mencakup Information Engineering, Software Engineering, Intelligent Systems, Distance Learning, Internetworking, Computer-Based Instrumentation & Control Systems.
Sejak menyelesaikan studi doktornya, mendapat amanah untuk menjadi Ketua Departemen Teknik Pertanian IPB (1997-2000), Ketua Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Keteknikan Pertanian IPB (2000-2003), Kepala Bagian (Lab) Ergotron( 2008-kini), Kepala Perpustakaan IPB (2003-2007), dan Direktur Komunikasi dan Sistem Informasi IPB (2007-kini).
Terlibat dalam tim desain & implementasi pembentukan Departemen Ilmu Komputer IPB, Program Studi Magister Komputer IPB, Program Studi Manajemen Teknologi Informasi untuk Perpustakaan IPB, pembukaan program Doktoral Jalur Riset Ilmu Keteknikan Pertanian IPB, serta pembentukan rumpun Departemen Teknik di IPB.
Dalam bidang keprofesian, menjabat Ketua HIPI/ ISAI (Himpunan Informatikan Pertanian Indonesia/Indonesian Society of Agriculture Informatics) , presiden AFITA (Asian Federation for Information Technology in Agriculture), dan anggota PERTETA (Perhimpunan Teknik Pertanian/ Indonesian Society of Agricultural Engineering).
Kesempatan menggali ilmu yang sangat berharga adalah kesempatan menimba dan mendalami ilmu agama khususnya Al-Qur’an baik dalam membaca dan mengkajinya sejak tahun 1996 hingga saat ini. Melalui bimbingan guru-guru yang yang bersahaja (tawadhu’) dalam ketinggian ilmunya yang salah satunya berperingkat hafiz (penghafal Al-Qur’an) tanpa meninggalkan profesi sebagai akademisi, peneliti, dan pendidik.
SUMBER BIODATA:
http://kseminar.staff.ipb.ac.id/biodata/
Semuanya bermula saat aku masih kuliah di IPB, Institut Pertanian Bogor. Pada suatu kesempatan, aku dan teman sekelasku mendapatkan tugas yang-mungkin- bagi sebagian orang sangat sepele, tapi tidak untukku.
Dosen menyuruh kami untuk menulis Surat Al-Fatihah dalam bahasa arab. Aku yang saat itu adalah mahasiswa yang sangat buta atau bahkan tidak memiliki basic agama sama sekali, hanya bisa diam membisu. Ya, aku terlahir bukan dari keluarga pesantren, juga keseharianku tidak begitu bergelut dengan yang namanya kajian keagamaan. Jangankan Surat Al-Fatihah, huruf hijaiyah pun tak ada yang aku hafal. Kala itu aku benar-benar tersudutkan. Sampai waktu yang diberikan selesai, lembaranku tetap saja putih bersih tanpa ada goresan pena sedikitpun. Aku hanya berharap semoga dosen mengerti kedaanku, keadan yang tak tersentuh pendar-pendar keislaman ini.
Jujur! Hari itu benar-benar membuatku terusik. Peristiwa itu seakan telah menjorokkanku ke dalam lubang yang paling dalam. Tapi kejadian itu tidak berlalu begitu saja dengan peninggalannya yang sangat menyakitkan itu. Ada satu hal yang membekas dalam fikiranku dan sepertinya aku harus benar-benar membidaninya. Ya, aku ingin belajar Al-Qur’an.
Saat itu tak banyak yang ingin aku kuasai dari yang namanya Al-Qur’an. Aku hanya ingin belajar membacanya. Ya, sebatas membacanya. Aku mulai menyisihkan waktu untuk mengeja huruf-huruf Tuhan itu. Bahkan saat aku tengah menempuh perjalanan dari Jakarta-bogor dengan bus, sesekali aku juga mendekte lisanku dengan huruf-huruf suci itu. Entahlah ! Kekuatan apa yang merasuk ke dalam saraf-sarafku hingga aku begitu menggiati kebiasaan yang tak pernah aku jalani sebelumnya. Dan setelah beberapa lama -akhirnya- upayaku benar-benar berbuah manis. Meski tidak sempurna, tapi aku sudah bisa membacanya. Sebuah pencapaian yang menurutku sangat memuaskan.
Tapi taqdir membawaku ke alur yang sedikit berkelok. Setelah lulus sarajana dari IPB, aku ditugaskan ke Kanada dalam rangka kuliah lanjutan di Bidang Tekhnologi. Aku yang lulusan Institut Pertanian kemudian harus mendalami tekhnologi yang –sejatinya- bukan fakku, tentu ini akan menjadi proses panjang yang banyak menyita kesabaran dan menghadirkan keluh yang mendalam.
Dan itu benar-benar terjadi. Hari-hariku di Kanada penuh dengan tekanan batin dan masalah-masalah yang membuatku rentan depresi dan setress. Tidak hanya masalah kuliah yang bukan fakku, tetapi kultur yang begitu bebas dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang beradab juga menjadi beban pikiranku. Aku kawatir kalau-kalau aku terlarut di dalamnya. Dan satu lagi, kebiasaanku menyelisik ayat-ayat Tuhan juga semakin terkikis. Hm…panorama Kanada dan karakteristik Kanadian tak bersepaham dengan nuraniku.
Namun selang beberapa tahun, tepatnya 4 tahun keberadaanku di Kanada, babak baru dalam hidupku dimulai. Dalam ketidakstabilanku dan lalaiku pada kitab-Nya, Tuhan mempertemukanku dengan mahasiswa berdarah Sudan, Yahya Faddallah Al-Hafidz. Aku sering memanggilnya dengan sebutan Brother Yahya. Dia seorang hafidz (hafal Al-Qur’an), teguh dan berkomitmen terhadap agamanya. Sehingga sering sekali aku menemukan dan mendengar lantunan ayat-ayat Tuhan keluar dari kedua bibirnya. Bahkan saat berdialog dengan teman sejawat pun, ayat-ayata Tuhan sering kali mewarnai perkataannya. Dialah yang akhirnya mengajariku untuk kembali mengeja ayat-ayat Tuhan.
Hari demi hari aku belajar padanya. Dan aku baru tahu, bacaan Al-Quran yang dulunya aku anggap cukup baik ternyata tidak seberapa benar ketika aku perdengarkan pada Brother Yahya. Dari situlah aku mulai tertantang. Ada rasa keingintahuan yang mendalam dalam benakku, tentang bagaimana seharusnya Ayat-ayat itu dibaca.
Sesekali aku juga mulai mencari-cari keistimewaan yang tertabiri dibalik ayat-ayat Al-Qur’an. Dan lama-kelamaan aku pun bisa menyingkap tabir kerahasiann itu, meski hanya sedikit. Aku menemukan ayat tentang Al-qur’an sebagai obat (Syifa’) untuk segala jenis penyakit (QS. Al-isra’ :82). Diam-diam aku seperti ingin menguji kebenaran Al-Qur’an. Setiap kondisiku diganjali masalah, selalu aku upayakan untuk membaca Al-Qur’an. menjadikan Al-Qur’an sebagai obat dan pelipur lara. Dan sungguh Allah dzat yang Haq dan Ahaq. Selalu saja aku temukan solusi-solusi saat aku menghadapi masalah dan aku lari pada Al-Qur’an.
Tidak sampai di situ. Aku juga mulai mencoba mengait-ngaitkan dan menganlogikan kitab suci itu dengan apa yang ada di sekitarku. Pernah suatu kesempatan aku berpikir bahwa komputer itu tanpa adanya operating system tak ubahnya seperti bangkai yang tak berguna. Hanya seonggok besi yang didesign apik tapi tak menampakkan nilai-nilai kebermanfaatan sama sekali. Lalu aku pun berpikir bahwa manusia juga mesti memiliki operating system. Karena dari operating system itulah manusia kemudian bisa memotretkan nilai-nilai kebajikan. Dan klimaksnya, Tuhan kemudian membuka pikiranku untuk menjangkau Kalam-Nya. Sehingga aku diketemukan dengan ayat yang secara tegas mengatakan bahwa islam itu adalah agama satu-satunya yang diterima Tuhan (QS. Ali-Imran : 19). Dan sejak itu kusimpulkan bahwa operating sytem yang mengatur manusia adalah Al-Islam. Ya, islam dengan kitab sucinya, Al-Qur’an.
Rupanya pemikiran itu benar-benar kuseksamai. Sehingga dia merasuk ke dalam hatiku dan membentuk bias semangat yang dahsyat. Aku semakin tertantang untuk memperdalam Al-Qur’an. Dan diam-diam aku mulai tertarik untuk mengikuti jejak Brother Yahya. Aku ingin menghafal Al-Qur’an, menjadi Hafidzul Qur’an seperti Brother Yahya.
Tapi, lagi-lagi Tuhan menggariskan berbeda. Dia belum menghendakiku untuk menghafal ayat-ayat suci-Nya. Kala itu, mungkin hatiku belum begitu bersih, sehingga nampaknya Tuhan belum mengizinkanku untuk mengecup firman-Nya. Ya, keinginan untuk menghafal Al-Quran itu muncul berbarengan dengan habis kontrak masa studiku. Sehingga aku harus kembali ke tanah kelahiran. Praktis, akan ada jarak yang menengahi perjumpaanku dengan Brother Yahya dan tentu aku tidak bisa lagi belajar padanya. Tapi apa hendak dikata. Ketetapan Tuhan sudah digariskan dan tidak ada yang dapat mengubahnya. Mungkin yang bisa kulakukan saat itu hanya berusaha menyelaraskan keinginan dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Berpositif thinking dan tidak mengkritisi keadilan-Nya.
Setelah kepulanganku dari Kanada, aku mulai disibukkan dengan profesi baruku sebagai dosen di IPB. Dan hari ke hari kesibukan demi kesibukan semakin memadati list agendaku. Tapi aku sangat bersyukur, meski kesibukan semakin menggunung, keinginan untuk menghafal Al-Qur’an rupanya tetap bersemayam dalam hati kecilku. Selama tujuh tahun keinginan itu hidup tanpa bapak. Karena hanya sebatas keinginan belum ada upaya untuk mewujudkannya sebab belum ada orang yang membimbingku. Sampai akhirnya aku diketemukan dengan KH. Mohammad Mudzaffar Al-hafidh. Beliau seorang Hafidz Qira’ah Sab’ah (tujuh model bacaan Al-qur’an) dan pimpinan pondok yang memiliki banyak santri dan semua santrinya adalah penghafal al-qur’an.
Dari pertemuan itu aku mulai menganyam kembali keinginan besar itu. Kuutarakan pada KH Mudzaffar perihal keinginan itu dan Alhamdulillah beliaupun mendukung sepenuhnya dan bersedia membimbingku. Lalu beliau menyuruhku untuk menghatamkan Al-Quran bin Nadhar (melihat) di hadapannya sampai tiga kali sebelum akhirnya aku diperbolehkan menghafal. Tak banyak yang aku tanggapi dari titah sang guru. Walau berat dan pastinya membutuhkan waktu yang lama, ku-iyakan saja perintahnya. Satu yang menjadi keyakinanku saat itu, bahwa sebagai murid sudah selayaknya aku mematuhi perintah guru selama tak menyeretku pada jurang kenistaan.
Dari perintah itu, aku mulai menyisihkan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Dan pengalaman lama kembali kutekuni. Aku kembali memanfaatkan waktu perjalananku dari Jakarta-Bogor yang –kurang lebih- satu jam itu untuk bersahabat dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Nyaris itu yang menjadi pekerjaanku selama di perjalanan. Bahkan saat aku menyetir sendiri pun, aku selalu menyalakan murattal agar Al-Qur’an bisa kudengarkan. Dan Alhamdulillah, proses yang memakan waktu 3 tahun itu akhirnya bisa kutaklukkan. Dan akhirnya, tepat saat umurku menginjak kepala empat, aku sudah hatam Al-Qur’an bin-Nadhar di hadapan KH. Mudzaffar, dan secara otomatis aku diperbolehkan menghafal Al-Qur’an.
Saat itu aku benar-benar merasakan prestasi yang besar, jauh lebih besar dari prestasi doktor dan professor yang selama ini telah aku dapatkan. Kini aku tengah maniti jejak sahabatku, Yahya Faddallah Al-hafidz, sebagai penghafal Al-Qur’an. Meski usiaku telah berumur dan kesibukan semakin menjamur, tapi aku tetap menekuni proses menghafal Al-Qur’an.
Bahkan sepertinya aku sudah semakin candu dengan Al-Qur’an.
Sehingga sesibuk apapun pekerjaanku selalu saja aku menyempatkan diri untuk menambah hafalan dan singgah di kediaman KH. Mudzaffar untuk simaan. Walau sebenarnya beliau tak memaksaku untuk selalu sima'an, tapi aku selalu berupaya untuk istiqamah dalam menambah hafalan dan sima’an. Dari satu ayat, dua ayat, tiga ayat, satu halaman, dua halaman, satu surat kemudian beralih ke surat berikutnya, berikutnya dan berikutnya sampai akhirnya tepat di usiaku yang ke 45 tahun, aku berhasil mengecup firman-Nya.
Ya, aku bisa menyelesaikan hafalan Qur’anku lengkap 30 juz. Semacam aku tidak percaya. Perjalananku selama ini yang aku anggap berkelok-kelok nyatanya sangat indah dan berbekas.
Kini, proses menghafalku telah usai tetapi perjuanganku untuk mensahabati Al-Qur’an masih terus berjalan dan akan terus berjalan hingga aku menutup mata. Sebari terus menjaga hafalan yang telah terukir rapi di dalam jiwa, aku berupaya untuk meluruskan langkah agar tidak menyelisihi nilai-nilai qur’ani.
Sangat naïf rasanya, saat ayat-ayata-Nya telah terpatri dalam hati, tapi tidak sedikitpun dipendarkan dalam elok prilaku.
Semoga Allah tetap menjagaku dari terjerumus ke dalam lingkar syaitan. Ya Allah! jangan jadikan Al-Qur’an bagiku sebagai sebab murka-MU karena aku melalaikan dan melupaknnya. Tetapi jadikan Al-Quran sebagai sebab keridhoan-Mu akan diriku karena aku bersahabat dan berprilaku atas tuntunannya. Amien!
• Tulisan ini berdasarkan penuturan langsung Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, Msc. saat kunjungan ke Masjid Ar-rahmah, Sabtu 12 januari 2013, namun disajikan dengan bahasa penulis (Mohammad Al Farobi). Semoga bermanfaat !
PROFIL SINGKAT
Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc
Guru Besar bidang Teknologi Komputer di Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) dan Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FAMIPA), IPB.
Menyelesaikan studinya pada strata S1 di IPB tahun 1983, dan strata S2 serta S3 di Faculty of Computer Science University of New Brunswick Canada pada tahun 1989 dan 1993. Bidang riset yang ditekuni mencakup Information Engineering, Software Engineering, Intelligent Systems, Distance Learning, Internetworking, Computer-Based Instrumentation & Control Systems.
Sejak menyelesaikan studi doktornya, mendapat amanah untuk menjadi Ketua Departemen Teknik Pertanian IPB (1997-2000), Ketua Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Keteknikan Pertanian IPB (2000-2003), Kepala Bagian (Lab) Ergotron( 2008-kini), Kepala Perpustakaan IPB (2003-2007), dan Direktur Komunikasi dan Sistem Informasi IPB (2007-kini).
Terlibat dalam tim desain & implementasi pembentukan Departemen Ilmu Komputer IPB, Program Studi Magister Komputer IPB, Program Studi Manajemen Teknologi Informasi untuk Perpustakaan IPB, pembukaan program Doktoral Jalur Riset Ilmu Keteknikan Pertanian IPB, serta pembentukan rumpun Departemen Teknik di IPB.
Dalam bidang keprofesian, menjabat Ketua HIPI/ ISAI (Himpunan Informatikan Pertanian Indonesia/Indonesian Society of Agriculture Informatics) , presiden AFITA (Asian Federation for Information Technology in Agriculture), dan anggota PERTETA (Perhimpunan Teknik Pertanian/ Indonesian Society of Agricultural Engineering).
Kesempatan menggali ilmu yang sangat berharga adalah kesempatan menimba dan mendalami ilmu agama khususnya Al-Qur’an baik dalam membaca dan mengkajinya sejak tahun 1996 hingga saat ini. Melalui bimbingan guru-guru yang yang bersahaja (tawadhu’) dalam ketinggian ilmunya yang salah satunya berperingkat hafiz (penghafal Al-Qur’an) tanpa meninggalkan profesi sebagai akademisi, peneliti, dan pendidik.
SUMBER BIODATA:
http://kseminar.staff.ipb.ac.id/biodata/
Sabtu, 23 Agustus 2014
Khasiat dan Efek Samping Kunyit Bagi Kesehatan -
Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn Curcuma domestica Val.), adalah termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami penyebaran ke daerah Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika.
Hampir setiap orang indonesia dan india serta bangsa Asia umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan. Dalam bahasa Banjar kunyit atau kunir ini dinamakan Janar.
Kunyit tergolong dalam kelompok jahe-jahean, zingiberaceae. Kunyit dikenal di berbagai daerah dengan beberapa nama lokal, seperti turmeric(Inggris), kurkuma (Belanda), kunyit (Indonesia dan Malaysia), kunir(Jawa), koneng (Sunda), konyet (Madura).
Kegunaan Kunyit
Kunyit adalah rempah-rempah yang biasa digunakan dalam masakan di negara-negara Asia. Kunyit sering digunakan sebagai bumbu dalam masakan sejenis gulai, dan juga digunakan untuk memberi warna kuning pada masakan, atau sebagai pengawet. Produk farmasi berbahan baku kunyit, mampu bersaing dengan berbagai obat paten, misalnya untuk peradangan sendi (arthritis-rheumatoid) atau osteo-arthritis berbahan aktif natrium deklofenak, piroksikam, dan fenil butason, dengan harga yang relatif mahal atau suplemen makanan (Vitamin-plus) dalam bentuk kapsul. Dalam bahasa Banjar kunyit biasa pula disebut Janar. Produk bahan jadi dari ekstrak kunyit berupa suplemen makanan dalam bentuk kapsul (Vitamin-plus) pasar dan industrinya sudah berkembang. Suplemen makanan dibuat dari bahan baku ekstrak kunyit dengan bahan tambahan Vitamin B1, B2, B6, B12, Vitamin E, Lesitin, Amprotab, Mg-stearat, Nepagin, dan Kolidon 90.
Kandungan Kimia Kunyit
Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin sebanyak 10% dan bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat- zat bermanfaat lainnya seperti minyak atsiri yang terdiri dari keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, Zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung Lemak sebanyak 1 -3%, Karbohidrat sebanyak 3%, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium.
Manfaat Kunyit Bagi Kesehatan
Karena sifat dari senyawa-senyawa yang dikandungnya, kunyit dijadikan sebagai obat tradisional yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit atau sebagai jamu untuk menjaga kesehatan tubuh. Berikut ini manfaat kunyit untuk kesehatan tubuh:
1. Kunyit bermanfaat sebagai antiseptik dan antibakteri alami, berguna dalam mengobati luka atau luka bakar.
2. Ketika dikombinasikan dengan kembang kol, kunyit terbukti dapat mencegah dan menghentikan pertumbuhan kanker prostat.
3. Kunyit dapat mengobati diare.
4. Kunyit dapat mencegah munculnya Melanoma (tumor ganas) serta dapat membunuh sel-sel melanoma yang ada di tubuh.
5. Kunyit bermanfaat dalam mengurangi risiko leukimia.
6. Kunyit dapat membantu proses detoksifikasi senyawa racun pada hati.
7. Kunyit dapat mencegah dan memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer dengan menghilangkan penumpukan lempengan amiloid pada otak.
8. Kunyit dapat mencegah metastasis, yakni penyebaran kanker dari tempat pertama (awal) ke tempat lain di dalam tubuh.
9. Kunyit bermanfaat sebagai obat anti-inflamasi alami, tanpa efek samping. Karena sifatnya yang anti-inflamasi, kunyit sering digunakan dalam mengobati peradangan pada persendian seperti Artritis dan Artritis Reumatoid.
10. Kunyit dapat memperlambat perkembangan multiple sclerosis (sklerosis ganda, yakni suatu kelainan peradangan pada otak & sumsusm tulang belakang).
11. Kunyit dapat digunakan sebagai penghilang rasa sakit alami.
12. Kunyit dapat membantu proses metabolisme lemak dan membantu dalam menjaga berat badan.
13. Kunyit telah lama digunakan dalam pengobatan Cina sebagai pengobatan untuk depresi.
14. Kunyit telah terbukti menghentikan pertumbuhan pembuluh darah baru pada tumor.
15. Kunyit dapat mempercepat penyembuhan luka dan membantu dalam memperbaiki kulit yang rusak.
16. Kunyit Dapat membantu dalam pengobatan psoriasis(penyakit autoimun yang mengenai kulit) dan kulit yang sedang mengalami peradangan.
Resep Kunyit Untuk Berbagai Obat
Terdapat beberapa petua untuk mengonsumsi kunyit di rumah, yaitu dengan cara merebus rimpang kunyit dan ditambah dengan beberapa ramuan lain sesuai dengan penyakit yang ingin diobati. Berikut adalah beberapa contoh:
1. Mengobati Demam: rimpang kunyit yang dicuci (20g), diparut, ditambah dengan air matang 100ml, diperas dengan saringan kain. Airnya diminum 2 kali sehari.
2. Mengobati Diare: kunyit diiris, direbus dengan air, ditambah 1 sendok teh air kapur sirih, aduk sampai rata. Dinginkan. Saringan airnya diminum 3 kali sehari sampai sembuh.
3. Mengobati Borok: kunyit diparut sebesar ibu jari, ditambah satu sendok teh air kapur sirih dan perasan air 1 jeruk nipis, aduk sampai rata. Oleskan campuran pada bagian tubuh yang sakit.
4. Mengobati Gatal (cacar air): sepotong kunyit, segenggam daun asam dicuci, diblender hingga halus seperti bubur. Oleskan pada bagian tubuh yang gatal.
5. Mengobati Keputihan: Kunyit tua (15g) dikupas dan diparut. Ditambah 150ml air asam dan gula jawa, aduk rata. Peras dengan kain, dan minum setiap hari.
6. Mengobati Radang amandel: setengah jari kunyit diparut, ditambah 2 sendok air minum, aduk sampai rata, peras dan ambil airnya. Tambah 1 kuning telur ayam kampung dan sedikit air kapur sirih. Kocok adunan, minum 1 hingga 2 kali sehari.
7. Mengobati Radang gusi: setengah ibu jari kunyit dan 3 potong gambir diiris. Rebus dalam 2 gelas air sehingga tersisa 1 gelas. Gunakan air itu untuk berkumur 3 hingga 4 kali sehari.
8. Mengobati Telat haid: kunyit dan daun sigading (15g), biji pala dan kapulaga (10g), ketumbar, jinten hitam dan cengkeh (5g). Rebus bahan tersebut dengan 3 gelas air sehingga tersisa 1 gelas. Dinginkan, saring, bagi menjadi 3 bagian untuk diminum 3 kali sehari.
9. Kesehatan kulit dan umum (jamu): 100g rimpang kunyit segar, 100 ml air jeruk nipis, 11/2 sendok makan madu dan air secukupnya. Kunyit dihaluskan dengan blender, campurkan pasta kunyit tersebut dengan madu dan air jeruk nipis. Tambahkan air secukupnya. Minum secara teratur.
Efek Samping Kunyit
Meskipun menawarkan banyak manfaat kesehatan, ternyata kunyit juga dapat menimbulkan efek samping terutama jika digunakan dengan cara yang salah.
Berikut adalah lima efek samping kunyit dan bagaimana cara efektif menghindarinya:
1. Gangguan lambung
Karena sifat pedas yang dimilikinya, mengonsumsi kunyit dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan gangguan lambung.
Untuk membantu menghindari efek samping ini, saat mengambil suplemen kunyit, pilih yang menggunakan lapisan enterik (enteric coating) dimana suplemen larut di usus kecil sehingga tidak mengganggu lambung.
2. Merangsang rahim
Kunyit dikenal sebagai stimulan rahim yang dapat mendorong aliran menstruasi. Wanita hamil dan ibu menyusui perlu berhati-hati untuk tidak menggunakan kunyit terlalu banyak.
3. Susah diserap tubuh
Kunyit memiliki kecenderungan susah diserap oleh tubuh. Jika hendak membeli suplemen kunyit, pastikan memilih yang mengandung piperin sebagai salah satu bahan aktif.
Piperin akan membantu mempermudah penyerapan kunyit sehingga tubuh akan mendapatkan manfaat maksimal.
4. Perdarahan
Kunyit diketahui menghambat penggumpalan trombosit sehingga dapat mencegah penggumpalan darah. Tapi kunyit ternyata juga dapat memicu perdarahan. Penting untuk mengambil dosis yang tepat untuk menghindari efek samping ini.
Saat memilih suplemen kunyit, pilih produk yang terdaftar serta mengandung nutrisi alami tambahan sehingga semakin banyak khasiat yang akan Anda dapatkan. Penting untuk menghindari kunyit jika Anda sedang menggunakan obat antikoagulan.
5. Menurunkan efek kemoterapi
Penelitian telah menunjukkan bahwa kunyit mungkin memiliki efek terhadap kemoterapi, sehingga sebaiknya jangan menggunakan suplemen kunyit saat sedang menjalani kemoterapi.
Demikian uraian singkat tentang manfaat, khasiat, kandungan kimia serta efek samping kunyit. Yang belum orang banyak tahu ternyata selain mengadung banyak sekali manfaat dan khasiat, ternyata kunyit juga mempunya efek samping. Tetapi diatas tadi sudah diuraikan juga cara cara mengindari efek samping tersebut. Semoga tulisan ini berguna buat sobat semua.
Read more: http://www.impoint.info/2014/01/1001-khasiat-dan-efek-samping-kunyit.html#ixzz3BE5XjrvH
Jumat, 22 Agustus 2014
Dengan set yang dibuat mirip dengan keadaan kota Mekkah di abad ke-7.
Serial ini sendiri akan tayang serentak di banyak negara.
Di Indonesia, serial Omar akan tayang di MNCTV, yang rencananya mulai tayang H-1 bulan puasa,
dan akan tayang setiap sahur. Menelusuri kembali ke era awal kehidupan Khalifah Islam kedua ini, figur pemuda berhati keras namun mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Cerita tentang seorang yang kelak menjadi pemimpin dengan pengaruh dan kekuasaan yang besar.
Karakter Umar juga tergambar sebagai pemimpin dengan moral mulia, pemimpin yang memastikan kesejahteraan kepada rakyatnya, dan memastikan kepastian hukum bagi siapapun.
Serial ini mengandung aspek dramatis yang sangat menarik. Penggambaran kondisi Mekkah saat itu juga digambarkan dengan sangat baik, kondisi psikologis masyarakat, bentuk kultur yang ada, hingga kondisi lingkungan kota Mekkah pada saat itu.
Walaupun terdapat banyak adegan-adegan perang yang epik, serial ini juga memiliki pesan-pesan penuh makna dan penuh adegan-adegan yang menggetarkan hati.
Proses Shooting dan Post Production menghabiskan 322 hari
= 10 bulan 18 hari= 46 minggu= 7.728 jam= 463.680 menit= 27.820.800 detik
= 10 bulan 18 hari= 46 minggu= 7.728 jam= 463.680 menit= 27.820.800 detik
Untuk keperluan 29 rumah di Kota Mekkah dibangun diatas tanah 5000 m2 di Kota Damaskus dan 89 rumah di atas tanah 12.000 m2 di Kota Marrakesh.
Melibatkan banyak properti
= 1970 pedang
= 650 tombak
= 1050 tameng
= 4000 anak panah
= 400 panahan
= 15 drum
= 137 patung
= 1600 tanah liat
= 10000 koin
= 170 baju perang
= 1970 pedang
= 650 tombak
= 1050 tameng
= 4000 anak panah
= 400 panahan
= 15 drum
= 137 patung
= 1600 tanah liat
= 10000 koin
= 170 baju perang
14.200 me kain digunakan untuk keperluan wardrobe setiap aktor dan aktris yang bermain, kain diambil dari Suriah, India, dan Tunisia. Wardrobe team sendiri terdiri dari 39 ahli jahit.
Tim properti juga menyediakan 7550 sendal
20.000 orang terlibat sebagai aktor ekstra, melibatkan 10.000 stunt actor, 7500 kuda, dan 3800 onta.
Tim properti juga menyediakan 7550 sendal
20.000 orang terlibat sebagai aktor ekstra, melibatkan 10.000 stunt actor, 7500 kuda, dan 3800 onta.
Langganan:
Postingan (Atom)




















