Blogroll

Minggu, 31 Agustus 2014

TENTANG MENUNTUT ILMU



12 PENGHALANG DALAM MENUNTUT ILMU

Menuntut ilmu memiliki beberapa penghalang yang menghalangi antara ilmu itu dan orang yang mencarinya. Di antara penghalang tersebut adalah:

1. Niat yang Rusak

Niat adalah dasar dan rukun amal. Apabila niat itu salah dan rusak, maka amal yang dilakukannya pun ikut salah dan rusak sebesar salah dan rusaknya niat.

2. Ingin Terkenal dan Ingin Tampil

Ingin terkenal dan ingin tampil adalah penyakit kronis. Tidak seorang pun dapat selamat darinya, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah Ta’ala.
Apabila niat seorang penuntut ilmu adalah agar terkenal, ingin dielu-elukan, ingin dihormati, ingin dipuji, disanjung, dan yang diinginkannya adalah itu semua, maka ia telah menempatkan dirinya pada posisi yang berbahaya.

3. Lalai Menghadiri Majelis Ilmu

Jika kita tidak memanfaatkan majelis ilmu yang dibentuk dan pelajaran yang disampaikan, niscaya kita akan gigit jari sepenuh penyesalan. Seandainya kebaikan yang ada dalam majelis-majelis ilmu hanya berupa ketenangan bagi yang menghadirinya dan rahmat Allah yang meliputi mereka, cukuplah dua hal ini sebagai pendorong untuk menghadirinya. Lalu, bagaimana jika ia mengetahui bahwa orang yang menghadirinya -insya Allah- memperoleh dua keberuntungan, yaitu ilmu yang bermanfaat dan ganjaran pahala di akhirat?!

4. Beralasan dengan Banyaknya Kesibukan

Alasan ini dijadikan syaitan sebagai penghalang dalam menuntut ilmu. Berapa banyak saudara kita yang telah dinasihati dan dimotivasi untuk menuntut ilmu syar’i, tetapi syaitan menggoda dan membujuknya.
Orang yang menyia-nyiakan kesempatan mencari ilmu, maka kesibukannya membuat ia tidak dapat menghadiri majelis ilmu. Ia menjadikannya sebagai bahan alasan yang sengaja dibuat-buat sehingga ketidakhadirannya di majelis ilmu memiliki alasan yang jelas.

5. Menyia-nyiakan Kesempatan Belajar di Waktu Kecil

6. Bosan dalam Menuntut Ilmu

7. Menilai Baik Diri Sendiri

8. Tidak Mengamalkan Ilmu

Tidak mengamalkan ilmu merupakan salah satu penyebab hilangnya keberkahan ilmu.

9. Putus Asa dan Rendah Diri

Putus asa dan tidak percaya diri merupakan salah satu sebab tidak diperolehnya ilmu. 
Jangan merasa rendah diri dengan lemahnya kemampuan menghafal, lemah dalam pemahaman, lambat dalam membaca, atau cepat lupa... 
Semua penyakit ini akan hilang jika kita meluruskan niat dan mencurahkan usaha.

Imam al-Bukhari (wafat th. 256 H) rahimahullaah pernah ditanya, “Apakah obat lupa itu?” 
Beliau menjawab, “Senantiasa melihat ke kitab.” (yaitu selalu membaca dan mengulangnya).

Selain itu, menjauhi maksiyat adalah sebab paling utama dalam membantu menguatkan hafalan. Jadi kita tidak boleh putus asa dan rendah diri, namun kita harus bersungguh-sungguh dan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.

10. Terbiasa Menunda-nunda

Seorang ulama Salaf berkata, “Menunda-nunda adalah termasuk tentara iblis.”
Setiap orang yang ingin mendapatkan ilmu dan ingin berkepribadian sebagaimana orang yang berilmu, hendaklah tidak menyia-nyiakan waktunya sedikit pun. Sesungguhnya jika seseorang mau membaca sejarah tentang kesungguhan ulama Salaf dalam memanfaatkan waktunya ia akan merasa takjub sekaligus heran.

11. Belajar kepada Ahlul Bid’ah

Seorang penuntut ilmu tidak boleh belajar kepada Ahlul bid’ah karena ia (ahlul bid’ah) merasa ridha dengan sesuatu yang menyelisihi agama Allah, seolah-olah ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala belum menyempurnakan agama ini dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam belum sempurna dalam menyampaikan seluruh risalah.”

Tidak diragukan apabila seorang penuntut ilmu bermajelis dengan orang yang memiliki sifat di atas maka ia akan memperoleh kejelekan, dan tidak ada yang datang kepadanya, kecuali berbagai kerusakan. Karena, meskipun orang yang bermajelis dengannya tidak mengamalkan bid’ahnya, maka paling tidak ia mendapatkan syubhat (keraguan) darinya sehingga ia menjadi bingung dalam segala urusannya.

12. Tergesa-gesa Ingin Memetik Buah Ilmu

Seorang penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa dalam usahanya untuk memperoleh ilmu. Menuntut ilmu tidak cukup dilakukan satu atau dua tahun karena yang demikian menyalahi jalan Salafush Shalih. Menuntut ilmu agama tidak bisa melalui jalan kursus atau belajar dengan singkat. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam saja menerima wahyu selama 23 tahun.

[Diringkas dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa, PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]

silahkan baca penjelasannya di:

http://almanhaj.or.id/content/3278/slash/0/penghalang-dalam-menuntut-ilmu-tidak-mengamalkan-ilmu-putus-asa-dan-rendah-diri/

http://almanhaj.or.id/content/3280/slash/0/penghalang-dalam-menuntut-ilmu-niat-yang-rusak-ingin-terkenal-dan-ingin-tampil/

http://almanhaj.or.id/content/2307/slash/0/menuntut-ilmu-jalan-menuju-surga/

Minggu, 24 Agustus 2014

Kenapa dan Bagaimana Aku Menghafal Al-Qur'an

(Pengalaman nyata Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, Msc. yang menghafal Al-Quran di usia 40 Tahun)




Semuanya bermula saat aku masih kuliah di IPB, Institut Pertanian Bogor. Pada suatu kesempatan, aku dan teman sekelasku mendapatkan tugas yang-mungkin- bagi sebagian orang sangat sepele, tapi tidak untukku.

Dosen menyuruh kami untuk menulis Surat Al-Fatihah dalam bahasa arab. Aku yang saat itu adalah mahasiswa yang sangat buta atau bahkan tidak memiliki basic agama sama sekali, hanya bisa diam membisu. Ya, aku terlahir bukan dari keluarga pesantren, juga keseharianku tidak begitu bergelut dengan yang namanya kajian keagamaan. Jangankan Surat Al-Fatihah, huruf hijaiyah pun tak ada yang aku hafal. Kala itu aku benar-benar tersudutkan. Sampai waktu yang diberikan selesai, lembaranku tetap saja putih bersih tanpa ada goresan pena sedikitpun. Aku hanya berharap semoga dosen mengerti kedaanku, keadan yang tak tersentuh pendar-pendar keislaman ini.

Jujur! Hari itu benar-benar membuatku terusik. Peristiwa itu seakan telah menjorokkanku ke dalam lubang yang paling dalam. Tapi kejadian itu tidak berlalu begitu saja dengan peninggalannya yang sangat menyakitkan itu. Ada satu hal yang membekas dalam fikiranku dan sepertinya aku harus benar-benar membidaninya. Ya, aku ingin belajar Al-Qur’an.

Saat itu tak banyak yang ingin aku kuasai dari yang namanya Al-Qur’an. Aku hanya ingin belajar membacanya. Ya, sebatas membacanya. Aku mulai menyisihkan waktu untuk mengeja huruf-huruf Tuhan itu. Bahkan saat aku tengah menempuh perjalanan dari Jakarta-bogor dengan bus, sesekali aku juga mendekte lisanku dengan huruf-huruf suci itu. Entahlah ! Kekuatan apa yang merasuk ke dalam saraf-sarafku hingga aku begitu menggiati kebiasaan yang tak pernah aku jalani sebelumnya. Dan setelah beberapa lama -akhirnya- upayaku benar-benar berbuah manis. Meski tidak sempurna, tapi aku sudah bisa membacanya. Sebuah pencapaian yang menurutku sangat memuaskan.

Tapi taqdir membawaku ke alur yang sedikit berkelok. Setelah lulus sarajana dari IPB, aku ditugaskan ke Kanada dalam rangka kuliah lanjutan di Bidang Tekhnologi. Aku yang lulusan Institut Pertanian kemudian harus mendalami tekhnologi yang –sejatinya- bukan fakku, tentu ini akan menjadi proses panjang yang banyak menyita kesabaran dan menghadirkan keluh yang mendalam.

Dan itu benar-benar terjadi. Hari-hariku di Kanada penuh dengan tekanan batin dan masalah-masalah yang membuatku rentan depresi dan setress. Tidak hanya masalah kuliah yang bukan fakku, tetapi kultur yang begitu bebas dan jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang beradab juga menjadi beban pikiranku. Aku kawatir kalau-kalau aku terlarut di dalamnya. Dan satu lagi, kebiasaanku menyelisik ayat-ayat Tuhan juga semakin terkikis. Hm…panorama Kanada dan karakteristik Kanadian tak bersepaham dengan nuraniku.

Namun selang beberapa tahun, tepatnya 4 tahun keberadaanku di Kanada, babak baru dalam hidupku dimulai. Dalam ketidakstabilanku dan lalaiku pada kitab-Nya, Tuhan mempertemukanku dengan mahasiswa berdarah Sudan, Yahya Faddallah Al-Hafidz. Aku sering memanggilnya dengan sebutan Brother Yahya. Dia seorang hafidz (hafal Al-Qur’an), teguh dan berkomitmen terhadap agamanya. Sehingga sering sekali aku menemukan dan mendengar lantunan ayat-ayat Tuhan keluar dari kedua bibirnya. Bahkan saat berdialog dengan teman sejawat pun, ayat-ayata Tuhan sering kali mewarnai perkataannya. Dialah yang akhirnya mengajariku untuk kembali mengeja ayat-ayat Tuhan.

Hari demi hari aku belajar padanya. Dan aku baru tahu, bacaan Al-Quran yang dulunya aku anggap cukup baik ternyata tidak seberapa benar ketika aku perdengarkan pada Brother Yahya. Dari situlah aku mulai tertantang. Ada rasa keingintahuan yang mendalam dalam benakku, tentang bagaimana seharusnya Ayat-ayat itu dibaca.

Sesekali aku juga mulai mencari-cari keistimewaan yang tertabiri dibalik ayat-ayat Al-Qur’an. Dan lama-kelamaan aku pun bisa menyingkap tabir kerahasiann itu, meski hanya sedikit. Aku menemukan ayat tentang Al-qur’an sebagai obat (Syifa’) untuk segala jenis penyakit (QS. Al-isra’ :82). Diam-diam aku seperti ingin menguji kebenaran Al-Qur’an. Setiap kondisiku diganjali masalah, selalu aku upayakan untuk membaca Al-Qur’an. menjadikan Al-Qur’an sebagai obat dan pelipur lara. Dan sungguh Allah dzat yang Haq dan Ahaq. Selalu saja aku temukan solusi-solusi saat aku menghadapi masalah dan aku lari pada Al-Qur’an.

Tidak sampai di situ. Aku juga mulai mencoba mengait-ngaitkan dan menganlogikan kitab suci itu dengan apa yang ada di sekitarku. Pernah suatu kesempatan aku berpikir bahwa komputer itu tanpa adanya operating system tak ubahnya seperti bangkai yang tak berguna. Hanya seonggok besi yang didesign apik tapi tak menampakkan nilai-nilai kebermanfaatan sama sekali. Lalu aku pun berpikir bahwa manusia juga mesti memiliki operating system. Karena dari operating system itulah manusia kemudian bisa memotretkan nilai-nilai kebajikan. Dan klimaksnya, Tuhan kemudian membuka pikiranku untuk menjangkau Kalam-Nya. Sehingga aku diketemukan dengan ayat yang secara tegas mengatakan bahwa islam itu adalah agama satu-satunya yang diterima Tuhan (QS. Ali-Imran : 19). Dan sejak itu kusimpulkan bahwa operating sytem yang mengatur manusia adalah Al-Islam. Ya, islam dengan kitab sucinya, Al-Qur’an.

Rupanya pemikiran itu benar-benar kuseksamai. Sehingga dia merasuk ke dalam hatiku dan membentuk bias semangat yang dahsyat. Aku semakin tertantang untuk memperdalam Al-Qur’an. Dan diam-diam aku mulai tertarik untuk mengikuti jejak Brother Yahya. Aku ingin menghafal Al-Qur’an, menjadi Hafidzul Qur’an seperti Brother Yahya.

Tapi, lagi-lagi Tuhan menggariskan berbeda. Dia belum menghendakiku untuk menghafal ayat-ayat suci-Nya. Kala itu, mungkin hatiku belum begitu bersih, sehingga nampaknya Tuhan belum mengizinkanku untuk mengecup firman-Nya. Ya, keinginan untuk menghafal Al-Quran itu muncul berbarengan dengan habis kontrak masa studiku. Sehingga aku harus kembali ke tanah kelahiran. Praktis, akan ada jarak yang menengahi perjumpaanku dengan Brother Yahya dan tentu aku tidak bisa lagi belajar padanya. Tapi apa hendak dikata. Ketetapan Tuhan sudah digariskan dan tidak ada yang dapat mengubahnya. Mungkin yang bisa kulakukan saat itu hanya berusaha menyelaraskan keinginan dengan apa yang dikehendaki Tuhan. Berpositif thinking dan tidak mengkritisi keadilan-Nya.

Setelah kepulanganku dari Kanada, aku mulai disibukkan dengan profesi baruku sebagai dosen di IPB. Dan hari ke hari kesibukan demi kesibukan semakin memadati list agendaku. Tapi aku sangat bersyukur, meski kesibukan semakin menggunung, keinginan untuk menghafal Al-Qur’an rupanya tetap bersemayam dalam hati kecilku. Selama tujuh tahun keinginan itu hidup tanpa bapak. Karena hanya sebatas keinginan belum ada upaya untuk mewujudkannya sebab belum ada orang yang membimbingku. Sampai akhirnya aku diketemukan dengan KH. Mohammad Mudzaffar Al-hafidh. Beliau seorang Hafidz Qira’ah Sab’ah (tujuh model bacaan Al-qur’an) dan pimpinan pondok yang memiliki banyak santri dan semua santrinya adalah penghafal al-qur’an.

Dari pertemuan itu aku mulai menganyam kembali keinginan besar itu. Kuutarakan pada KH Mudzaffar perihal keinginan itu dan Alhamdulillah beliaupun mendukung sepenuhnya dan bersedia membimbingku. Lalu beliau menyuruhku untuk menghatamkan Al-Quran bin Nadhar (melihat) di hadapannya sampai tiga kali sebelum akhirnya aku diperbolehkan menghafal. Tak banyak yang aku tanggapi dari titah sang guru. Walau berat dan pastinya membutuhkan waktu yang lama, ku-iyakan saja perintahnya. Satu yang menjadi keyakinanku saat itu, bahwa sebagai murid sudah selayaknya aku mematuhi perintah guru selama tak menyeretku pada jurang kenistaan.

Dari perintah itu, aku mulai menyisihkan waktu untuk membaca Al-Qur’an. Dan pengalaman lama kembali kutekuni. Aku kembali memanfaatkan waktu perjalananku dari Jakarta-Bogor yang –kurang lebih- satu jam itu untuk bersahabat dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Nyaris itu yang menjadi pekerjaanku selama di perjalanan. Bahkan saat aku menyetir sendiri pun, aku selalu menyalakan murattal agar Al-Qur’an bisa kudengarkan. Dan Alhamdulillah, proses yang memakan waktu 3 tahun itu akhirnya bisa kutaklukkan. Dan akhirnya, tepat saat umurku menginjak kepala empat, aku sudah hatam Al-Qur’an bin-Nadhar di hadapan KH. Mudzaffar, dan secara otomatis aku diperbolehkan menghafal Al-Qur’an.

Saat itu aku benar-benar merasakan prestasi yang besar, jauh lebih besar dari prestasi doktor dan professor yang selama ini telah aku dapatkan. Kini aku tengah maniti jejak sahabatku, Yahya Faddallah Al-hafidz, sebagai penghafal Al-Qur’an. Meski usiaku telah berumur dan kesibukan semakin menjamur, tapi aku tetap menekuni proses menghafal Al-Qur’an.
Bahkan sepertinya aku sudah semakin candu dengan Al-Qur’an.

Sehingga sesibuk apapun pekerjaanku selalu saja aku menyempatkan diri untuk menambah hafalan dan singgah di kediaman KH. Mudzaffar untuk simaan. Walau sebenarnya beliau tak memaksaku untuk selalu sima'an, tapi aku selalu berupaya untuk istiqamah dalam menambah hafalan dan sima’an. Dari satu ayat, dua ayat, tiga ayat, satu halaman, dua halaman, satu surat kemudian beralih ke surat berikutnya, berikutnya dan berikutnya sampai akhirnya tepat di usiaku yang ke 45 tahun, aku berhasil mengecup firman-Nya.

Ya, aku bisa menyelesaikan hafalan Qur’anku lengkap 30 juz. Semacam aku tidak percaya. Perjalananku selama ini yang aku anggap berkelok-kelok nyatanya sangat indah dan berbekas.

Kini, proses menghafalku telah usai tetapi perjuanganku untuk mensahabati Al-Qur’an masih terus berjalan dan akan terus berjalan hingga aku menutup mata. Sebari terus menjaga hafalan yang telah terukir rapi di dalam jiwa, aku berupaya untuk meluruskan langkah agar tidak menyelisihi nilai-nilai qur’ani.

Sangat naïf rasanya, saat ayat-ayata-Nya telah terpatri dalam hati, tapi tidak sedikitpun dipendarkan dalam elok prilaku.
Semoga Allah tetap menjagaku dari terjerumus ke dalam lingkar syaitan. Ya Allah! jangan jadikan Al-Qur’an bagiku sebagai sebab murka-MU karena aku melalaikan dan melupaknnya. Tetapi jadikan Al-Quran sebagai sebab keridhoan-Mu akan diriku karena aku bersahabat dan berprilaku atas tuntunannya. Amien!

• Tulisan ini berdasarkan penuturan langsung Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, Msc. saat kunjungan ke Masjid Ar-rahmah, Sabtu 12 januari 2013, namun disajikan dengan bahasa penulis (Mohammad Al Farobi). Semoga bermanfaat !



PROFIL SINGKAT
Prof. Dr. Ir. Kudang Boro Seminar, M.Sc
Guru Besar bidang Teknologi Komputer di Departemen Teknik Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) dan Departemen Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FAMIPA), IPB.
Menyelesaikan studinya pada strata S1 di IPB tahun 1983, dan strata S2 serta S3 di Faculty of Computer Science University of New Brunswick Canada pada tahun 1989 dan 1993. Bidang riset yang ditekuni mencakup Information Engineering, Software Engineering, Intelligent Systems, Distance Learning, Internetworking, Computer-Based Instrumentation & Control Systems.

Sejak menyelesaikan studi doktornya, mendapat amanah untuk menjadi Ketua Departemen Teknik Pertanian IPB (1997-2000), Ketua Program Studi Pasca Sarjana Ilmu Keteknikan Pertanian IPB (2000-2003), Kepala Bagian (Lab) Ergotron( 2008-kini), Kepala Perpustakaan IPB (2003-2007), dan Direktur Komunikasi dan Sistem Informasi IPB (2007-kini).
Terlibat dalam tim desain & implementasi pembentukan Departemen Ilmu Komputer IPB, Program Studi Magister Komputer IPB, Program Studi Manajemen Teknologi Informasi untuk Perpustakaan IPB, pembukaan program Doktoral Jalur Riset Ilmu Keteknikan Pertanian IPB, serta pembentukan rumpun Departemen Teknik di IPB.

Dalam bidang keprofesian, menjabat Ketua HIPI/ ISAI (Himpunan Informatikan Pertanian Indonesia/Indonesian Society of Agriculture Informatics) , presiden AFITA (Asian Federation for Information Technology in Agriculture), dan anggota PERTETA (Perhimpunan Teknik Pertanian/ Indonesian Society of Agricultural Engineering).

Kesempatan menggali ilmu yang sangat berharga adalah kesempatan menimba dan mendalami ilmu agama khususnya Al-Qur’an baik dalam membaca dan mengkajinya sejak tahun 1996 hingga saat ini. Melalui bimbingan guru-guru yang yang bersahaja (tawadhu’) dalam ketinggian ilmunya yang salah satunya berperingkat hafiz (penghafal Al-Qur’an) tanpa meninggalkan profesi sebagai akademisi, peneliti, dan pendidik.

SUMBER BIODATA:
http://kseminar.staff.ipb.ac.id/biodata/

Sabtu, 23 Agustus 2014

Khasiat dan Efek Samping Kunyit Bagi Kesehatan







Khasiat dan Efek Samping Kunyit Bagi Kesehatan -

Kunyit atau kunir, (Curcuma longa Linn. syn Curcuma domestica Val.), adalah termasuk salah satu tanaman rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian mengalami penyebaran ke daerah Malaysia, Indonesia, Australia bahkan Afrika.

Hampir setiap orang indonesia dan india serta bangsa Asia umumnya pernah mengonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan kecantikan. Dalam bahasa Banjar kunyit atau kunir ini dinamakan Janar.
Kunyit tergolong dalam kelompok jahe-jahean, zingiberaceae. Kunyit dikenal di berbagai daerah dengan beberapa nama lokal, seperti turmeric(Inggris), kurkuma (Belanda), kunyit (Indonesia dan Malaysia), kunir(Jawa), koneng (Sunda), konyet (Madura).



Kegunaan Kunyit

Kunyit adalah rempah-rempah yang biasa digunakan dalam masakan di negara-negara Asia. Kunyit sering digunakan sebagai bumbu dalam masakan sejenis gulai, dan juga digunakan untuk memberi warna kuning pada masakan, atau sebagai pengawet. Produk farmasi berbahan baku kunyit, mampu bersaing dengan berbagai obat paten, misalnya untuk peradangan sendi (arthritis-rheumatoid) atau osteo-arthritis berbahan aktif natrium deklofenak, piroksikam, dan fenil butason, dengan harga yang relatif mahal atau suplemen makanan (Vitamin-plus) dalam bentuk kapsul. Dalam bahasa Banjar kunyit biasa pula disebut Janar. Produk bahan jadi dari ekstrak kunyit berupa suplemen makanan dalam bentuk kapsul (Vitamin-plus) pasar dan industrinya sudah berkembang. Suplemen makanan dibuat dari bahan baku ekstrak kunyit dengan bahan tambahan Vitamin B1, B2, B6, B12, Vitamin E, Lesitin, Amprotab, Mg-stearat, Nepagin, dan Kolidon 90.

Kandungan Kimia Kunyit

Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin sebanyak 10% dan bisdesmetoksikurkumin sebanyak 1-5% dan zat- zat bermanfaat lainnya seperti minyak atsiri yang terdiri dari keton sesquiterpen, turmeron, tumeon 60%, Zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol dan sineil. Kunyit juga mengandung Lemak sebanyak 1 -3%, Karbohidrat sebanyak 3%, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C 45-55%, dan garam-garam mineral, yaitu zat besi, fosfor, dan kalsium.

Manfaat Kunyit Bagi Kesehatan

Karena sifat dari senyawa-senyawa yang dikandungnya, kunyit dijadikan sebagai obat tradisional yang mampu menyembuhkan berbagai penyakit atau sebagai jamu untuk menjaga kesehatan tubuh. Berikut ini manfaat kunyit untuk kesehatan tubuh:

1. Kunyit bermanfaat sebagai antiseptik dan antibakteri alami, berguna dalam mengobati luka atau luka bakar.

2. Ketika dikombinasikan dengan kembang kol, kunyit terbukti dapat mencegah dan menghentikan pertumbuhan kanker prostat.

3. Kunyit dapat mengobati diare.

4. Kunyit dapat mencegah munculnya Melanoma (tumor ganas) serta dapat membunuh sel-sel melanoma yang ada di tubuh.

5. Kunyit bermanfaat dalam mengurangi risiko leukimia.

6. Kunyit dapat membantu proses detoksifikasi senyawa racun pada hati.

7. Kunyit dapat mencegah dan memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer dengan menghilangkan penumpukan lempengan amiloid pada otak.

8. Kunyit dapat mencegah metastasis, yakni penyebaran kanker dari tempat pertama (awal) ke tempat lain di dalam tubuh.

9. Kunyit bermanfaat sebagai obat anti-inflamasi alami, tanpa efek samping. Karena sifatnya yang anti-inflamasi, kunyit sering digunakan dalam mengobati peradangan pada persendian seperti Artritis dan Artritis Reumatoid.

10. Kunyit dapat memperlambat perkembangan multiple sclerosis (sklerosis ganda, yakni suatu kelainan peradangan pada otak & sumsusm tulang belakang).

11. Kunyit dapat digunakan sebagai penghilang rasa sakit alami.

12. Kunyit dapat membantu proses metabolisme lemak dan membantu dalam menjaga berat badan.

13. Kunyit telah lama digunakan dalam pengobatan Cina sebagai pengobatan untuk depresi.

14. Kunyit telah terbukti menghentikan pertumbuhan pembuluh darah baru pada tumor.

15. Kunyit dapat mempercepat penyembuhan luka dan membantu dalam memperbaiki kulit yang rusak.

16. Kunyit Dapat membantu dalam pengobatan psoriasis(penyakit autoimun yang mengenai kulit) dan kulit yang sedang mengalami peradangan.


Resep Kunyit Untuk Berbagai Obat

Terdapat beberapa petua untuk mengonsumsi kunyit di rumah, yaitu dengan cara merebus rimpang kunyit dan ditambah dengan beberapa ramuan lain sesuai dengan penyakit yang ingin diobati. Berikut adalah beberapa contoh:

1. Mengobati Demam: rimpang kunyit yang dicuci (20g), diparut, ditambah dengan air matang 100ml, diperas dengan saringan kain. Airnya diminum 2 kali sehari.

2. Mengobati Diare: kunyit diiris, direbus dengan air, ditambah 1 sendok teh air kapur sirih, aduk sampai rata. Dinginkan. Saringan airnya diminum 3 kali sehari sampai sembuh.


3. Mengobati Borok: kunyit diparut sebesar ibu jari, ditambah satu sendok teh air kapur sirih dan perasan air 1 jeruk nipis, aduk sampai rata. Oleskan campuran pada bagian tubuh yang sakit.

4. Mengobati Gatal (cacar air): sepotong kunyit, segenggam daun asam dicuci, diblender hingga halus seperti bubur. Oleskan pada bagian tubuh yang gatal.

5. Mengobati Keputihan: Kunyit tua (15g) dikupas dan diparut. Ditambah 150ml air asam dan gula jawa, aduk rata. Peras dengan kain, dan minum setiap hari.

6. Mengobati Radang amandel: setengah jari kunyit diparut, ditambah 2 sendok air minum, aduk sampai rata, peras dan ambil airnya. Tambah 1 kuning telur ayam kampung dan sedikit air kapur sirih. Kocok adunan, minum 1 hingga 2 kali sehari.

7. Mengobati Radang gusi: setengah ibu jari kunyit dan 3 potong gambir diiris. Rebus dalam 2 gelas air sehingga tersisa 1 gelas. Gunakan air itu untuk berkumur 3 hingga 4 kali sehari.

8. Mengobati Telat haid: kunyit dan daun sigading (15g), biji pala dan kapulaga (10g), ketumbar, jinten hitam dan cengkeh (5g). Rebus bahan tersebut dengan 3 gelas air sehingga tersisa 1 gelas. Dinginkan, saring, bagi menjadi 3 bagian untuk diminum 3 kali sehari.

9. Kesehatan kulit dan umum (jamu): 100g rimpang kunyit segar, 100 ml air jeruk nipis, 11/2 sendok makan madu dan air secukupnya. Kunyit dihaluskan dengan blender, campurkan pasta kunyit tersebut dengan madu dan air jeruk nipis. Tambahkan air secukupnya. Minum secara teratur.


Efek Samping Kunyit

Meskipun menawarkan banyak manfaat kesehatan, ternyata kunyit juga dapat menimbulkan efek samping terutama jika digunakan dengan cara yang salah.
Berikut adalah lima efek samping kunyit dan bagaimana cara efektif menghindarinya:

1. Gangguan lambung
Karena sifat pedas yang dimilikinya, mengonsumsi kunyit dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan gangguan lambung.
Untuk membantu menghindari efek samping ini, saat mengambil suplemen kunyit, pilih yang menggunakan lapisan enterik (enteric coating) dimana suplemen larut di usus kecil sehingga tidak mengganggu lambung.

2. Merangsang rahim
Kunyit dikenal sebagai stimulan rahim yang dapat mendorong aliran menstruasi. Wanita hamil dan ibu menyusui perlu berhati-hati untuk tidak menggunakan kunyit terlalu banyak.

3. Susah diserap tubuh
Kunyit memiliki kecenderungan susah diserap oleh tubuh. Jika hendak membeli suplemen kunyit, pastikan memilih yang mengandung piperin sebagai salah satu bahan aktif.
Piperin akan membantu mempermudah penyerapan kunyit sehingga tubuh akan mendapatkan manfaat maksimal.

4. Perdarahan
Kunyit diketahui menghambat penggumpalan trombosit sehingga dapat mencegah penggumpalan darah. Tapi kunyit ternyata juga dapat memicu perdarahan. Penting untuk mengambil dosis yang tepat untuk menghindari efek samping ini.
Saat memilih suplemen kunyit, pilih produk yang terdaftar serta mengandung nutrisi alami tambahan sehingga semakin banyak khasiat yang akan Anda dapatkan. Penting untuk menghindari kunyit jika Anda sedang menggunakan obat antikoagulan.

5. Menurunkan efek kemoterapi
Penelitian telah menunjukkan bahwa kunyit mungkin memiliki efek terhadap kemoterapi, sehingga sebaiknya jangan menggunakan suplemen kunyit saat sedang menjalani kemoterapi.

Demikian uraian singkat tentang manfaat, khasiat, kandungan kimia serta efek samping kunyit. Yang belum orang banyak tahu ternyata selain mengadung banyak sekali manfaat dan khasiat, ternyata kunyit juga mempunya efek samping. Tetapi diatas tadi sudah diuraikan juga cara cara mengindari efek samping tersebut. Semoga tulisan ini berguna buat sobat semua.

Read more: http://www.impoint.info/2014/01/1001-khasiat-dan-efek-samping-kunyit.html#ixzz3BE5XjrvH

Jumat, 22 Agustus 2014

Dibalik Pembuatan Film Omar



Serial Omar ibn Khattab diproduksi oleh MBC Group jadi 31 Episode dengan lokasi shooting di 2 negara Marroko dan Suriah.
Dengan set yang dibuat mirip dengan keadaan kota Mekkah di abad ke-7.

Serial ini sendiri akan tayang serentak di banyak negara.

Di Indonesia, serial Omar akan tayang di MNCTV, yang rencananya mulai tayang H-1 bulan puasa,
dan akan tayang setiap sahur. Menelusuri kembali ke era awal kehidupan Khalifah Islam kedua ini, figur pemuda berhati keras namun mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Cerita tentang seorang yang kelak menjadi pemimpin dengan pengaruh dan kekuasaan yang besar.


Karakter Umar juga tergambar sebagai pemimpin dengan moral mulia, pemimpin yang memastikan kesejahteraan kepada rakyatnya, dan memastikan kepastian hukum bagi siapapun.


Serial ini mengandung aspek dramatis yang sangat menarik. Penggambaran kondisi Mekkah saat itu juga digambarkan dengan sangat baik, kondisi psikologis masyarakat, bentuk kultur yang ada, hingga kondisi lingkungan kota Mekkah pada saat itu.



Walaupun terdapat banyak adegan-adegan perang yang epik, serial ini juga memiliki pesan-pesan penuh makna dan penuh adegan-adegan yang menggetarkan hati.




Proses Shooting dan Post Production menghabiskan 322 hari
= 10 bulan 18 hari= 46 minggu= 7.728 jam= 463.680 menit= 27.820.800 detik




Untuk keperluan 29 rumah di Kota Mekkah dibangun diatas tanah 5000 m2 di Kota Damaskus dan 89 rumah di atas tanah 12.000 m2 di Kota Marrakesh.






Melibatkan banyak properti
= 1970 pedang
= 650 tombak
= 1050 tameng
= 4000 anak panah
= 400 panahan
= 15 drum
= 137 patung
= 1600 tanah liat
= 10000 koin
= 170 baju perang




14.200 me kain digunakan untuk keperluan wardrobe setiap aktor dan aktris yang bermain, kain diambil dari Suriah, India, dan Tunisia. Wardrobe team sendiri terdiri dari 39 ahli jahit.
Tim properti juga menyediakan 7550 sendal



20.000 orang terlibat sebagai aktor ekstra, melibatkan 10.000 stunt actor, 7500 kuda, dan 3800 onta.


Surat Alhumazah


Senin, 18 Agustus 2014

Kenapa teks Proklamasi bertahun 05 bukan 45 ...?



Menurut berbagai sumber , hal ini disebabkan karena dampak dari japanisasi indonesia .

Kata Djakarta, 17-8-05 diubah menjadi Djakarta, hari 17 boelan 08 tahun ‘05, dalam naskah aslinya tertulis tahun’05, karena mengikuti kalender tahun Jepang, yang kala itu adalah tahun 2605. Tahun Jepang diartikan sebagai tahun zaman kaisar, yaitu cara perhitungan tahun di Jepang berdasarkan tahun Kaisar Jimmu naik tahta pada tahun 660 SM. Sehingga tahun Kalender Kaisar Jimmu lebih awal 660 tahun dari pada kalender Gregorian (tahun sesudah Masehi), sehingga tahun Jepang berdasarkan kalender Jimmu dihitung dengan menambahkan angka tahun kalender Gregorian (tahun Masehi) dengan 660. Sehingga tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, disingkat menjadi 2605 tahun Kalender Jepang yang digunakan pada masa itu (Jepang berkuasa).

Dampak dari japanisasi indonesia dari jepang yang menentukan agar indonesia menerapkan hal-hal yang berbau Jepang, di antaranya yaitu :

1. Bendera ==> Hinomaru
2. Lagu ==> Kimigayo
3. Mata Uang ==> Yen
4. Waktu ==> WJBJ (Waktu Jawa Bagian Jepang)
5. Tahun ==> Sumera/Showa
6. Upacara Seikeirei ==> Menyembah Dewa Matahari
7. Upacara Tencosetsu ==> Memperingati kelahiran kaisar Hirohito
8. Organisasi yang diperbolehkan hanya MIAI
9. Semangat Bushido



Waktu = 60 menit
WJBJ = 90 menit

Jepang mendarat di Indonesia pada Tahun 1941 pada tahun Masehi/ tahun 2601 pada tahun Sumera
jadi pada tahun 1945 = 26(05).

Minggu, 17 Agustus 2014

Surat Ucapan Selamat Hari Kemerdekaan untuk Bangsa Indonesia dari Gaza, Palestina

Surat Ucapan Selamat Hari Kemerdekaan untuk Bangsa Indonesia dari Gaza, Palestina





Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

  Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam kepada junjungan kita, Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam. 

Keluarga dan saudara kami yang mulia dan tercinta di Indonesia, pada peringatan hari kemerdekaan yang telah dibayar dengan nyawa para syuhada, darah dan tahanan para pejuang.

Para pejuang Bangsa Indonesia sudah merasakan sebagaimana yang saat ini dirasakan bangsa Palestina, seperti pembunuhan dan penghancuran atas tanah dan bangsa kami.

Bangsa Indonesia sudah berjuang dan mengusir penjajah Belanda dengan penuh keberanian dan heroisme persis sebagaimana kami saat ini, para pejuang Palestina yang berjuang melawan penjajah zionis Israel.

Pemimpin bangsa Indonesia, Sukarno dan Hatta telah berjuang mengusir penjajah, dan sekarang di Palestina bangsa kami dan para pemimpin kami seperti Abul Abd Haniyah, Muhammad Addayf sedang berjuang untuk mengembalikan hak-hak kami yang direnggut penjajah zionis.

Sungguh penjajah itu sudah melakukan kejahatan kemanusiaan yang sangat luar biasa kepada bangsa Indonesia sebagaimana juga yang saat ini dilakukan oleh penjajah zionis kepada bangsa kami di Palestina, terutama di Gaza.

Untuk itu, kita adalah bangsa yang sama-sama telah merasakan hidup sakit di bawah tekanan dan kejahatan penjajah, kami berharap kepada Allah dalam waktu yang dekat, Palestina Merdeka sebagaimana bangsa Indonesia telah merdeka.

Kami melihat dan merasakan sendiri, masyarakat Gaza mencintai bangsa Indonesia, di setiap sudut-sudut kota Gaza ada bantuan- bantuan yang sudah sampai kepada kami dari lembaga-lembaga kemanusiaan yang berasal dari Indonesia.

Dan Gaza pada saat bangsa Indonesia sedang memperingati hari kemerdekaannya semoga menjadi inspirasi bagi kami untuk membebaskan Al-Quds, Al-Aqsha dan Palestina secara keseluruhan.

    Salam CINTA dari saudaramu di Gaza, dan juga salam CINTA dari saudara-saudaramu yang masih mendekam di penjara-penjara zionis di tepi barat.

   

Salam dari saya,

Fursan Khalifa (Abul Abbas)
Gaza, 16/8/2014




Dalam catatan sejarah, dukungan untuk kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 pertama kali dimulai dari Palestina dan Mesir. Hal tersebut terungkap dalam buku berjudul “Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri” yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M. Zein Hassan

Buku pelajaran kelas 4 SD Kurikulum 2013

Buku pelajaran Kurikulum 2013 dalam bentuk e-book bisa didownload di website Buku Sekolah Elektronik (BSE) Kemdikbud. Tetapi sayangnya, untuk mendowload buku pelajaran tersebut harus login terlebih dahulu. Hal tersebut membuat peminat buku pelajaran Kurikulum 2013 gratis menjadi lebih repot.

Mulai tahun ini Kurikulum 2013 dilaksanakan di kelas 1 dan 4. Buku pelajaran kelas 4 SD Kurikulum 2013 dapat didownload dengan mudah di sini

http://www.sekolahdasar.net/2013/10/download-buku-pelajaran-kelas-4-sd.html#ixzz3AZiI6Cqu

Jumat, 15 Agustus 2014

Musa 5,5 tahun - Bangka Belitung

Tidak ada gunanya kita iri dengki terhadap dunia....
Hanya menambah dosa saja.


Lihatlah video ini.....
Seharusnya kita iri sama musa...
Iri yang seperti ini....Insya Alloh berbuah pahala .

http://www.youtube.com/watch?v=4tytFJlshqE

Ebook yang mengulas tentang fakta ilmiah keharaman babi

Ebook yang mengulas tentang fakta ilmiah keharaman babi     http://www.4shared.com/account/home.jsp#dir=mpUO32gT

Uang NKRI



Inilah Beda Fisik Uang NKRI dengan Uang Lama Rp 100.000

By Asqi Resnawan on 5:35 PM

Sektor moneter Indonesia memasuki babak baru. Untuk pertama kalinya, pemerintah berkolaborasi dengan Bank Indonesia (BI) menerbitkan uang baru.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan, penerbitan uang yang lantas disebut uang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini merupakan implementasi Undang-Undang nomor 7 tahun 2011 tentang Mata Uang.

"Karena itu, ada tanda tangan Gubernur BI dan Menkeu di uang baru yang akan diterbitkan mulai 17 Agustus nanti," ujarnya kemarin (14/8).

Sebagaimana diketahui, sebelum implementasi UU Mata Uang, penerbitan atau emisi uang dilakukan oleh BI. Karena itu, dalam cetakan uang kertas, selalu ada tanda tangan gubernur BI dan deputi gubernur BI.

Munculnya tanda tangan menteri keuangan di uang NKRI sama dengan skema uang dolar Amerika Serikat (USD) yang menggunakan tanda tangan treasury atau menteri keuangan.

Jika dilihat, fisik uang pecahan Rp 100.000 yang dirilis tahun 2014 ini mirip dengan pecahan yang dirilis tahun 2004, misalnya gambar utama proklamator Soekarno - Hatta di bagian depan dan gambar Gedung MPR/DPR/DPD di bagian belakang.

Namun, ada beberapa perbedaan yang kasat mata. Misalnya, frasa "NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA" di atas tulisan "SERATUS RIBU RUPIAH", menggantikan frasa "BANK INDONESIA" Pada uang edisi 2004.

Selain itu, nama duo proklamator kini juga ditulis lengkap sesuai Keputusan Presiden, yakni Dr (H.C) Ir. Soekarno dan Dr (H.C) Drs. Mohammad Hatta. Tanda lain yang cukup mencolok adalah perubahan blok warna dari merah ke kuning keemasan pada bagian samping kanan uang.

Direktur Departemen Pengelolaan Uang BI Lambok A. Siahaan mengatakan, uang NKRI memang dicetak mirip dengan uang lama agar masyarakat tidak bingung. Namun demikian, masyarakat tetap bisa mencermati beberapa perbedaan antara yang baru dan uang lama.

"Kalau misalnya diganti warna, nanti masyarakat malah bertanya-tanya," katanya.

Menurut Lambok, pada tahap awal, penerbitan uang NKRI saat ini hanya untuk pecahan uang terbesar, yakni Rp 100.000. Hal itu disebabkan karena keterbatasan kemampuan pencetakan uang oleh Peruri. "Jadi, nanti secara bertahap uang NKRI akan ada untuk semua pecahan," ucapnya.

Frasa Negara Kesatuan Republik Indonesia dan hadirnya tanda tangan gubernur BI serta mentri keuangan, kata Lambok, memiliki makna filosofis bahwa Rupiah merupakan simbol kedaulatan negara yang harus dihormati dan dibanggakan oleh seluruh warga negara Indonesia.

"Dengan begitu, sudah menjadi kewajiban bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk menggunakan uang Rupiah dalam setiap transaksi di wilayah NKRI, termasuk di daerah terpencil dan daerah terluar Indonesia," jelasnya.

Sementara itu, Deputi Gubernur BI Ronald Waas meminta agar masyarakat tidak khawatir dengan beredarnya beberapa gambar mata uang redenominasi di media sosial. Menurut dia, gambar tersebut hanyalah bahan presentasi ketika BI melakukan sosialisasi tentang rencana redenominasi. "Jadi, uang baru nanti mirip dengan uang lama, belum ada uang redenominasi," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, sejak 2013 lalu, BI menggulirkan wacana redenominasi atau penyederhanaan penulisan uang. Misalnya, uang Rp 100.000 hanya ditulis Rp 100, atau Rp 50.000 hanya ditulis Rp 50, namun nilainya tetap sama. Redenominasi hanya dimaksudkan untuk penyederhanaan penulisan saja, bukan pemotongan nilai uang.

"Redenominasi butuh waktu lama, banyak tahapan yang harus dilalui, termasuk syarat stabilitas politik dan ekonomi," katanya. (jpnn)



copast Asqi Resnawan on 5:35 PM muslimina.blogspot.com

Membuka Catatan Sejarah

Membuka Catatan Sejarah: Detik-Detik Proklamasi, 17 Agustus 1945

Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum
Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara R.I.

Proklamasi  Kemerdekaan, yang kita peringati setiap tanggal 17 Agustus, adalah sebuah peristiwa bersejarah bagi bangsa Indonesia . Proklamasi, telah mengubah  perjalanan sejarah, membangkitkan rakyat dalam semangat kebebasan. Merdeka dari segala bentuk penjajahan.

Bagaimanakah sesungguhnya, peristiwa yang terjadi 69 tahun yang lalu itu. Mari kita buka kembali catatan sejarah sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Perdebatan

Proklamasi, ternyata didahului oleh perdebatan hebat antara golongan pemuda dengan golongan tua. Baik golongan tua maupun golongan muda, sesungguhnya sama-sama menginginkan secepatnya dilakukan Proklamasi Kemerdekaan dalam suasana kekosongan kekuasaan dari tangan pemerintah Jepang. Hanya saja, mengenai cara melaksanakan proklamasi  itu terdapat perbedaan pendapat. Golongan tua, sesuai dengan perhitungan politiknya, berpendapat bahwa Indonesia dapat merdeka tanpa pertumpahan darah, jika tetap bekerjasama dengan Jepang.

Karena itu, untuk memproklamasikan kemerdekaan, diperlukan suatu revolusi yang terorganisir. Soekarno dan Hatta, dua tokoh golongan tua, bermaksud membicarakan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Dengan cara itu, pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tidak menyimpang dari ketentuan pemerintah Jepang. Sikap inilah yang tidak disetujui oleh golongan pemuda. Mereka menganggap, bahwa PPKI adalah badan buatan Jepang. Sebaliknya, golongan pemuda menghendaki terlaksananya Proklamasi Kemerdekaan itu, dengan kekuatan sendiri. Lepas sama  sekali  dari campur tangan pemerintah Jepang. Perbedaan pendapat ini, mengakibatkan penekanan-penekanan golongan pemuda kepada golongan  tua  yang  mendorong  mereka  melakukan “aksi penculikan” terhadap diri Soekarno-Hatta (lihat  Marwati Djoened Poesponegoro, ed. 1984:77-81)

Tanggal 15 Agustus 1945, kira-kira pukul 22.00, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat  kediaman Bung Karno, berlangsung  perdebatan   serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan sebagaimana dilukiskan Lasmidjah Hardi (1984:58); Ahmad Soebardjo (1978:85-87) sebagai berikut:

" Sekarang  Bung, sekarang! malam ini  juga  kita kobarkan revolusi !" kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan  Bung Karno bahwa ribuan  pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. " Kita  harus segera merebut  kekuasaan !" tukas Sukarni berapi-api. " Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami !" seru mereka bersahutan. Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan; " Jika Bung Karno  tidak mengeluarkan pengumuman pada malam  ini  juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari ."

Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil  berkata:  " Ini batang leherku, seretlah saya ke  pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari !". Hatta kemudian memperingatkan Wikana; "... Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus  menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. Jika saudara tidak setuju dengan  apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan  itu sendiri ? Mengapa meminta Soekarno untuk  melakukan hal itu ?"

Namun, para pemuda terus mendesak; " apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan  kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri  telah menyerah dan telah  takluk  dalam 'Perang Sucinya '!". " Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memprokla­masikan kemerdekaannya ? Mengapa bukan kita yang menyata­kan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa ?". Dengan lirih, setelah amarahnya reda, Soekarno berkata; "... kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan  kesiapan total tentara  Jepang! Coba, apa yang  bisa  kau perlihatkan kepada saya ?  Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu ? Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak ? Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah  diproklamasikan ? Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang  atau Sekutu. Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri ". Demikian jawab Bung Karno dengan tenang.

Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak  bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada  waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri,  Djojopranoto, dan Sudiro. Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa  usul para  pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan  timbulnya  banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda  nampak tidak puas. Mereka mengambil  kesimpulan yang  menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan  kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.

Pukul 04.00 dinihari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi "penculikan" itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi (1984:60). Bung Karno marah dan  kecewa, terutama  karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang  mereka tentukan. Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, ia ikut sertakan.

Rengasdengklok  kota kecil dekat Karawang  dipilih oleh para pemuda untuk mengamankan Soekarno-Hatta dengan perhitungan militer; antara anggota PETA (Pembela  Tanah Air) Daidan Purwakarta dengan Daidan Jakarta telah terjalin hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama-sama. Di samping itu, Rengasdengklok letaknya terpencil sekitar 15  km. dari Kedunggede Karawang. Dengan demikian, deteksi dengan mudah dilakukan terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang mendekati Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah Bandung atau Jawa Tengah.

Sehari penuh, Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Maksud para pemuda untuk menekan mereka, supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan terlepas dari segala kaitan dengan Jepang, rupa-rupanya tidak membuahkan hasil. Agaknya keduanya memiliki wibawa yang cukup besar. Para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok, segan untuk melakukan penekanan terhadap keduanya. Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta . Akan tetapi, Soekarno-Hatta tidak  mau didesak begitu saja. Keduanya, tetap berpegang teguh pada perhitungan dan  rencana mereka sendiri. Di sebuah  pondok  bambu berbentuk panggung  di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas; " Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu ...". " Lalu apa ?" teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara.

Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. Dengan suara rendah ia mulai berbicara; " Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang  tepat. Di  Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan  ini untuk dijalankan tanggal 17 ". " Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa  tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?" tanya Sukarni. " Saya seorang yang percaya pada mistik”. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang  berada  dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci  bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu  Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat  suci. Al-Qur'an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu  kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia ". Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi (1984:61).

Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang   harus dilaksanakan  di Jakarta . Laksamana Tadashi Maeda, bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Rombongan penjemput  tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali  ke Jakarta (Marwati Djoened Poesponegoro,  ed. 1984:82-83).

Merumuskan Teks Proklamasi

Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1, setelah lebih dahulu menurunkan Fatmawati dan putranya di rumah Soekarno. Rumah Laksamada  Maeda, dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda sendiri yang memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno  dan tokoh-tokoh lainnya. De Graff yang dikutip Soebardjo (1978:60-61) melukiskan sikap Maeda seperti ini. Sikap dari Maeda tentunya memberi kesan aneh bagi orang-orang Indonesia itu, karena perwira Angkatan Laut ini selalu berhubungan dengan rakyat Indonesia.

Sebagai seorang perwira Angkatan Laut yang telah melihat lebih banyak dunia ini dari rata-rata seorang perwira Angkatan Darat , ia mempunyai pandangan yang lebih tepat tentang keadaan dari orang-orang militer yang agak sempit pikirannya. Ia dapat berbicara dalam beberapa bahasa. Ia adalah pejabat yang bertanggungjawab atas Bukanfu di Batavia;  kantor pembelian Angkatan Laut di Indonesia. Ia tidak khusus membatasi diri hanya pada tugas-tugas militernya saja, tetapi agar dirinya dapat  terbiasa dengan suasana di Jawa , ia membentuk suatu kantor penerangan bagi dirinya di tempat yang sama yang pimpinannya dipercayakan kepada Soebardjo. Melalui  kantor inilah, yang menuntut biaya yang tidak  sedikit  baginya,  ia  mendapatkan pengertian tentang masalah-masalah di Jawa lebih baik dari yang didapatnya dari buletin-buletin resmi Angkatan Darat. Terlebih-lebih ia memberanikan diri untuk mendirikan asrama-asrama bagi nasionalis-nasionalis muda Indonesia . Pemimpin-pemimpin terkemuka, diperbantukan sebagai guru-guru untuk mengajar di asrama itu. Doktrin-doktrin yang agak radikal dipropagandakan. Lebih lincah dari orang-orang militer, ia berhasil mengambil hati dari banyak nasionalis yang tahu pasti bahwa keluhan-keluhan dan keberatan-keberatan mereka selalu bisa dinyatakan kepada Maeda. Sikap Maeda seperti inilah yang memberikan keleluasaan kepada para tokoh nasionalis untuk melakukan aktivitas yang maha penting bagi masa depan bangsanya.

Malam itu, dari rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan Hatta ditemani Laksamana Maeda menemui Somobuco (kepala  pemerintahan umum), Mayor Jenderal Nishimura, untuk menjajagi sikapnya mengenai pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Nishimura mengatakan bahwa karena Jepang sudah  menyatakan menyerah kepada Sekutu,  maka berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo . Tentara Jepang diharuskan tunduk kepada perintah tentara Sekutu. Berdasarkan garis  kebi ­ jakan itu, Nishimura melarang Soekarno-Hatta  mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerde ­ kaan. Melihat kenyataan ini, Soekarno-Hatta sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi untuk membicara­kan soal kemerdekaan Indonesia dengan Jepang. Mereka hanya  berharap agar pihak Jepang  tidak menghalang-ha ­ langi pelaksanaan  proklamasi kemerdekaan oleh rakyat Indonesia sendiri (Hatta, 1970:54-55).

Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta  kembali ke rumah Laksamana Maeda. Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di  lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung. Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi. Sedangkan  tokoh-tokoh lainnya,  baik  dari golongan tua maupun  dari  golongan pemuda, menunggu di serambi muka.

Menurut Soebardjo (1978:109) di ruang makan rumah Laksamana Maeda menjelang tengah malam,  rumusan  teks Proklamasi yang akan dibacakan esok harinya disusun. Soekarno menuliskan  konsep proklamasi pada secarik kertas. Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan. Kalimat pertama dari teks Proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan   Dokuritsu Junbi Cosakai , sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta. Hatta menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri, menurut pendapatnya perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan   kekuasaan  (transfer of sovereignty). Maka dihasilkanlah rumusan terakhir dari teks proklamasi itu.

Setelah kelompok yang menyendiri di  ruang  makan itu selesai merumuskan teks Proklamasi, kemudian mereka menuju serambi muka untuk menemui hadirin yang berkumpul di  ruangan itu. Saat itu, dinihari menjelang subuh. Jam menunjukkan pukul 04.00, Soekarno mulai membuka pertemuan itu dengan membacakan rumusan teks Proklamasi yang masih merupakan konsep. Soebardjo (1978:109-110) melukiskan suasana ketika itu: “ Sementara teks Proklamasi ditik, kami  menggunakan kesempatan  untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang  dapur, yang telah disiapkan sebelumnya  oleh tuan rumah kami yang telah pergi ke kamar tidurnya di tingkat atas. Kami  belum makan apa-apa, ketika meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu adalah bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk makan sahur, makan terakhir sebelum sembahyang subuh. Setelah kami terima kembali teks yang telah  ditik, kami semuanya menuju ke ruang besar di bagian depan rumah. Semua orang berdiri dan tidak ada kursi di dalam ruangan. Saya  bercampur dengan  beberapa anggota Panitia di tengah-tengah ruangan. Sukarni berdiri  di samping  saya. Hatta berdiri mendampingi Sukarno menghadap para hadirin . Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno membuka  pertemuan dini hari itu dengan beberapa  patah kata.

"Keadaan yang mendesak telah memaksa  kita  semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah  siap  dibacakan  di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing". Kepada mereka yang hadir, Soekarno menyarankan agar bersama-sama  menandatangani  naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia . Saran itu diperkuat oleh Mohammad  Hatta dengan mengambil contoh pada "Declaration of Independence " Amerika Serikat. Usul itu ditentang oleh pihak pemuda yang  tidak  setuju  kalau tokoh-tokoh  golongan tua yang  disebutnya  "budak-budak Jepang" turut menandatangani naskah proklamasi. Sukarni mengusulkan agar penandatangan naskah  proklamasi  itu cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad  Hatta atas  nama bangsa Indonesia . Usul Sukarni itu  diterima oleh hadirin.

Naskah  yang sudah  diketik oleh Sajuti Melik,  segera ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta. Persoalan  timbul mengenai  bagaimana Proklamasi itu harus diumumkan  kepada  rakyat  di seluruh Indonesia ,  dan juga ke seluruh pelosok dunia. Di mana dan dengan cara bagaimana hal ini harus diselenggarakan? Menurut  Soebardjo (1978:113), Sukarni kemudian memberitahukan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya, telah diserukan untuk datang berbondong-bondong  ke lapangan IKADA pada  tanggal 17 Agustus  untuk mendengarkan Proklamasi  Kemerdekaan. Akan tetapi  Soekarno  menolak saran Sukarni. " Tidak ," kata Soekarno, " lebih  baik dilakukan  di tempat kediaman saya di Pegangsaan  Timur. Pekarangan  di  depan  rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing  insiden ? Lapangan  IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham. Suatu bentrokan  kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan  terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan  Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi ." Demikianlah keputusan terakhir dari pertemuan itu.

Detik-Detik Proklamasi

Hari  Jumat di bulan Ramadhan, pukul  05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan  kemerdekaan bangsa Indonesia hari  itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para  pemuda  yang bekerja pada pers dan  kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia (Hatta, 1970:53).

Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan kepada  Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan  seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan  satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di  belakang rumah. Bambu  itu dibersihkan dan diberi  tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah. Bendera  yang dijahit  dengan  tangan oleh Nyonya  Fatmawati  Soekarno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak  standar, karena kainnya berukuran tidak  sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera.

Sementara  itu, rakyat yang telah mengetahui  akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang  tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang. Matahari semakin tinggi, Proklamasi belum juga dimulai. Waktu itu Soekarno terserang  sakit,  malamnya panas dingin terus  menerus  dan baru  tidur  setelah selesai merumuskan teks Proklamasi. Para undangan telah banyak  berdatangan, rakyat yang telah menunggu  sejak pagi, mulai tidak sabar lagi. Mereka  yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan. Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan  teks Proklamasi. Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta. Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih  dan langsung menuju kamar Soekarno. Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian.  Ia  juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.

Marwati Djoened Poesponegoro (1984:92-94) melukiskan upacara pembacaan teks Proklamasi itu. Upacara itu berlangsung sederhana saja. Tanpa protokol. Latief Hendraningrat, salah  seorang  anggota  PETA, segera memberi aba-aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu  sejak pagi untuk berdiri. Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta  maju beberapa  langkah mendekati mikrofon. Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat  sebelum membacakan teks proklamasi.

"Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia  telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. Bahkan telah beratus-ratus tahun. Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. Tetapi jiwa  kita tetap menuju ke arah cita-cita. Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. Di dalam jaman  Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada  mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil  nasib bangsa dan nasib tanah air  kita  di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang  berani mengambil nasib dalam tangan  sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia , permusyawaratan itu seia-sekata  berpendapat,  bahwa sekaranglah  datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan  tekad itu. Dengarkanlah Proklamasi kami: PROKLAMASI; Kami  bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia . Hal-hal  yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Jakarta , 17 Agustus 1945. Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta.

Demikianlah saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi  yang mengikat tanah air kita dan  bangsa  kita! Mulai saat  ini kita menyusun  Negara  kita!  Negara Merdeka.  Negara Republik Indonesia  merdeka, kekal, dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu". (Koesnodiprojo, 1951).

Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak: " lebih baik seorang prajurit ," katanya. Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. S. Suhud  mengambil bendera dari  atas baki  yang  telah disediakan   dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat.

Bendera dinaikkan perlahan-lahan. Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan  lagu Indonesia Raya. Bendera dikerek dengan  lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. Seusai pengibaran  bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo dan dr. Muwardi.

Setelah upacara pembacaan Proklamasi  Kemerdekaan, Lasmidjah Hardi (1984:77) mengemukakan bahwa ada sepasukan  barisan pelopor yang berjumlah kurang  lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki  halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. Dengan suara lantang  penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung  Karno membacakan  Proklamasi sekali lagi.  Mendengar teriakan itu Bung  Karno tidak  sampai  hati,  ia  keluar  dari kamarnya. Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. Mendengar  keterangan itu  Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi  amanat singkat. Kali ini permintaannya dipenuhi. Selesai  upacara itu rakyat masih belum mau beranjak, beberapa anggota Barisan Pelopor masih duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.

Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, menurut Lasmidjah Hardi (1984:79) datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka diperintahkan  menunggu di ruang belakang, tanpa  diberi kursi. Sudiro sudah dapat menerka, untuk apa mereka datang. Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepungnya. Bung Karno sudah memakai piyama ketika Sudiro masuk, sehingga  terpaksa  berpakaian  lagi. Kemudian terjadi dialog antara utusan Jepang dengan Bung Karno: " Kami  diutus oleh Gunseikan Kakka, datang kemari untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi ." " Proklamasi sudah saya ucapkan," jawab Bung  Karno dengan tenang. " Sudahkah ?" tanya utusan Jepang itu keheranan. " Ya, sudah !" jawab Bung Karno. Di sekeliling  utusan Jepang itu, mata para  pemuda melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit. Sementara  itu, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah  itu, dokumentasinya hanya ada  tiga; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran  bendera,  dan  sebagian  foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu.
Penutup

Peristiwa  besar  bersejarah yang  telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia itu berlangsung  hanya satu  jam, dengan penuh kehidmatan. Sekalipun sangat sederhana, namun ia telah membawa perubahan  yang  luar biasa  dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia . “Gema lonceng kemerdekaan”  terdengar  ke seluruh   pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia. Para  pemuda, mahasiswa,  serta pegawai-pegawai bangsa Indonesia pada jawatan-jawatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu  ke seluruh pelosok negeri. Para wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei , sekalipun telah disegel oleh pemerintah  Jepang, mereka berusaha menyebarluaskan gema Proklamasi itu ke seluruh dunia.

Dirgahayu Indonesiaku!
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Soebardjo (1978). Lahirnya  Republik   Indonesia . Jakarta : Kinta.

Koesnodiprodjo    (1951). Himpunan Undang-Undang, Peraturan-Peraturan, Penetapan-Penetapan Pemerintah Republik Indonesia 15. Jakarta .

Lasmidjah   Hardi  (1984). Samudera  Merah   Putih    19 September 1945 . Jilid 1. Jakarta : Pustaka Jaya.

Marwati  Djoened  Poesponegoro et. al.  (1984). Sejarah Nasional    Indonesia .  Jilid  6.    Jakarta :   Balai Pustaka.

Mohammad  Hatta  (1970). Sekitar Proklamasi  17  Agustus 1945 . Jakarta : Tinta Mas.

Nugroho  Notosusanto  (1976). Naskah  Proklamasi   yang Otentik   dan  Rumusan Pancasila   yang   Otentik. Jakarta : Pusat Sejarah ABRI.

Soekarno   (1963 ). Sarinah; Kewadjiban  Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia . Jakarta : Panitia Penerbit Buku-Buku Karangan Presiden Soekarno.



copast http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=19

15 Agustus 1945






Indonesia 15 Agustus 1945

Ketika membaca buku empat serangkai pendiri Republik seri Buku Tempo: bapak bangsa awalnya biasa saja. Dalam seri tokoh bapak bangsa tersebut ada empat tokoh yang dibahas. Kisah tokoh bapak bangsa tersebut diangkat dari berita Mingguan sepanjang tahun 2001-2009. Buku tersebut fokus pada mengulas ulang kembali kehidupan Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Sjahrir secara rinci. Mulai dari pergolakan pemikiran mereka, petualangan, ketakutan hingga cerita kamar tidur mereka.

Layaknya buku awalnya biasa saja membacanya. Apalagi ini bukanlah golongan buku teoritis yang butuh energi ekstra dalam membacanya. Pada awalnya tak ada niat untuk pilih kasih membacanya mengingat semuanya amat penting. Memulainya dari seri buku Soekarno, Hatta, Tan Malaka lalu yang terakhir seri Bung Sjahrir. Namun, pada seri buku Sjahrir betapa kagetnya setelah menemukan fakta sejarah “fatal” yang belum diketahui banyak warga Indonesia. Fakta dimana ternyata Indonesia lebih dulu memerdekakan diri pada tanggal 15 Agustus 1945 di Cirebon.

Berikut rangkuman kronologis yang saya rangkum dalam buku tersebut. Pada 14 Agustus 1945, Sjahrir mendengar dari BBC, Jepang akhirnya menyerah kepada sekutu. Sjahrir pun menemui Soekarno dan Hatta di pegangsaan Timur 56 dan meminta Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan. Itu karena Soekarno dan Hatta pada saat itu menjabat sebagai ketua dan wakil Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia sebuah badan yang bertugas menyiapkan kemerdekaan.

Awalnya Soekarno menolak keras petrmintaan Sjahrir tersebut karena Bung Karno masih menunggu keputusan Jepang. Ini sangat berbeda denga golongan pemuda pada saat itu yang menginginkan merdeka lebih cepat tanpa bantuan Jepang. Namun, karena didesak Sjahrir Bung Karno pun berjanji mengumumkan proklamasi pada tanggal 15 Agustus setelah pukul lima sore. Sjahrir pun menginstruksikan kepada pemuda yang bekerja di kantor berita Jepang untuk bergerak lebih cepat. Namun, dalam pelaksanaannya Sjahrir mendeteksi ketidakseriusan Soekarno dalam melaksanakannya. Terbukti pada pukul lima sore 15 Agustus 1945, ribuan pemuda telah menunggu dan bersiap-siap mendengar kabar proklamasi dari Soekarno dan Hatta.Namun, pada pukul enam kurang beberapa menit Soekarno mengabarkan penundaan proklamasi.

Terang saja hal tersebut membuat marah para pemuda yang menjadi pengikut Sjahrir. Namun, kabar batalnya diumumkan proklamasi tak sempat dikabarkan di Cirebon. Para pemuda Cirebon yang notabennya basisnya pendukung Sjahrir dibawah pimpinan dokter Soedarsono yang juga ayahnya Juwono Soedarsono mantan menteri pertahanan kabinet SBY pada hari itu juga tanggal 15 Agustus 1945 mengumumkan proklamasi versi mereka sendiri.

Bunyinya kurang lebih “Kami bangsa Indonesia dengan ini memproklamirkan kemerdekaan Indonesia karena kami tidak mau dijajah oleh siapa pun”. Sementara beberapa pemuda yang lainnya pun lalu merencanakan penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok agar Soekarno membacakan teks proklamasi dengan secepatnya. Karena desakan pemuda pada akhirnya Soekarno merumuskan dan membacakan naskah proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945.

Secara sah memang rumusan dan pembacaan proklamasi yang dibacakan Soekarno-Hatta lebih dan kuat. Dasarnya ialah karena jabatan sah mereka sebagai ketua panitia persiapan kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun, bagaimanapun juga peristiwa proklamasi pada 15 Agustus harus juga diketahui khalayak umum. Khususnya ini masuk dalam kurikulum pendidikan. Sementara tugu yang berdiri tegak di dekat alun-alun Kejaksaan, Cirebon tersebut tak semua orang mengetahui bahwa tugu itu menjadi saksi sejarah proklamasi pertama Indonesia.
Tentunya sangat disayangkan peristiwa penting ini hanya sekedar menjadi misteri yang tak tersampaikan oleh bangsa ini. Sepertinya bangsa ini harus kembali melestarikan sejarah-sejarah besar bangsanya agar tak terbengkalai dan terhapuskan.




http://sejarah.kompasiana.com/2011/09/23/misteri-kemerdekaan-indonesia-15-agustus-1945-397855.html